Udah tiga hari ini gw libur kuliah. Seharusnya gw bisa mengerjakan banyak hal selama tiga hari itu, karena banyak tugas kuliah yang menunggu untuk dikerjakan dan deadline sudah sangat dekat. But in the end, ternyata gw nggak ngapa-ngapain. Kalau dipikir-pikir ke belakang, gw sendiri udah nggak inget selama liburan ini ngapain aja. Tapi satu hal sudah jelas, kalau gw nggak mencapai apapun dalam rentang waktu tertentu (yang cukup lama), berarti gw MALAS.
Rasanya kok susah sekali ya melawan rasa malas ini? Kita semua pasti pernah merasa malas toh? Karena saat ini di YM gw ada yang pasang status “males banget hari ini” hehehe… Gw sendiri sebenarnya bingung, malas ini sebetulnya ‘makhluk’ apa ya? Padahal seumur hidup (seingat gw), gw nggak pernah tuh diajarkan untuk merasa malas. Hal ini terkesan datang dengan sendirinya.
Apakah malas ini berawal dari rasa iri? … Lho kok iri? Iya, karena menurut gw, ada point-point dalam hidup kita di mana kita pernah membandingkan kegiatan kita dengan kegiatan orang lain, kemudian secara sadar atau tidak, kita merasa iri karena mungkin saat itu banyak orang lain terlihat lebih santai daripada kita, yang menyebabkan kita kemudian merasa enggan untuk melakukan pekerjaan kita.
Sewaktu kita masih baru lahir, kita selalu belajar. Sejak bangun tidur sampai tidur lagi (sekalipun itu bayi yang masih belum dapat membuka mata). Kenapa gw bisa bilang begitu? Karena pada masa-masa itulah, bayi dinilai oleh orang luar (orangtua, dokter, dsb). Begitu ada kejanggalan, misalnya kalau diberi bunyi-bunyian tidak pernah menoleh ke arah bunyi itu, maka sang bayi dianggap memiliki kemungkinan masalah pendengaran, karena bayi selalu belajar. Yang dipelajari bayi sejak baru lahir sampai sekitar umur 2 tahun itu sangat banyak lho. Mulai dari memperhatikan, merespons (mengontrol anggota tubuh), membedakan mana yang hidup dan mana yang tidak, belajar berguling, merangkak, berjalan, bicara, menghafalkan nama benda yang sangat banyak sekali, makan, berinteraksi dengan makhluk hidup, dan lain sebagainya. Pertumbuhan bayi (berat badan, tinggi) juga sangat cepat pada 2 tahun pertama itu. Kenapa mereka bisa berkembang sedemikian cepat hanya dalam waktu dua tahun? Karena mereka memiliki motivasi yang sangat besar untuk belajar (yaitu mengenal dan menguasai lingkungannya, belajar mandiri, dan mempertahankan diri). Semakin kita dewasa, kita semakin merasa mengetahui banyak hal, dan akibatnya kita mulai kehilangan motivasi itu. Jadi, malas ini akibat kehilangan motivasi. Kehilangan motivasi ini bisa juga sebagai “proses lanjut” dari iri hati di atas tadi.
Banyak dari kita yang merasa malas karena merasa lelah (padahal mungkin itu hanya perasaan saja). Kalau merasa sudah tidak ada tenaga, ya kita tentu saja hanya ingin diam saja “idle”, atau tidur. Lelah itu memang manusiawi. Karena itulah kita memiliki minimal satu tanggal merah dalam seminggu, yaitu hari Minggu (di hampir semua negara di dunia) dan hari Jumat (di daerah TimTeng seperti Bahrain). Hari itu digunakan untuk melakukan acara keagamaan mingguan dan istirahat (idle atau tidur itu tadi). Tapi kalau kelelahan itu sudah terlalu sering, wah patut dipertanyakan bukan? Walaupun ada juga orang, yang entah fisiknya lemah, atau mungkin ‘hobi’, sehingga ia memiliki waktu tidur yang lebih banyak daripada orang umumnya (gw salah satunya yang memiliki hobi tidur
).
Kita sudah tau bahwa manusia tidak mungkin terjadi dengan sendirinya; pasti ada sesuatu yang menjadikannya, yang merupakan konsep Tuhan (mungkin ini berbeda dalam tiap agama/kepercayaan), tapi bahkan orang-orang yang tidak percaya akan keberadaan Tuhan pun masih mengerti bahwa manusia itu terjadi from NOTHING to SOMETHING. Jangankan manusia pertama, kita PUN masih sama seperti itu. Kita dibentuk dalam our mother’s womb (gw lupa bhs Indonesia yg tepat untuk womb?). Memangnya sel telur itu apa sih? Sel sperma itu apa? Bukan apa-apa! Itu hanya sebuah sel yang berisi kode genetik manusia. Artinya, tidak memiliki hidup. Tidak bernyawa. Tapi begitu keduanya bergabung, menjadi sesuatu yang hidup. Sekali lagi: from NOTHING to SOMETHING. Kembali ke pokok bahasan kita, kemalasan, jika dihubungkan dengan konsep tadi, apakah manusia sedang dalam proses degradasi? From SOMETHING to NOTHING? Karena saat kita malas, kita hanya idle, tidur, atau melakukan sesuatu yang memang karena sudah ‘nature’, misalnya bermain. Tidak ada hal yang benar-benar berguna yang diperoleh dari sana. Sama saja seperti benda mati, hanya diam. Seperti angin, yang walaupun terkadang membantu penyerbukan tanaman, tapi itu semua terjadi secara “tidak sengaja”, karena angin merupakan udara yang bergerak akibat perbedaan suhu dan tekanan, tidak lebih dari itu. Jika memang demikian, apa yang membuat manusia malas itu spesial/berbeda dengan benda mati? Tidak ada. Berarti pemikiran gw kemungkinan benar: sangat perlahan-lahan namun pasti, manusia sedang dalam jalan nya kembali…. kembali ke NOTHING, ke sebuah ketidakberadaan.