Hadiah Tahun Baru

Hadiah tahun baru masih terus berdatangan kepada masyarakat Indonesia… sampai detik ini, hadiah yang sudah kami dapatkan antara lain:

  • Hadiah dari PLN, berupa mati lampu GRATIS selama tiga hari berturut-turut, sekitar 1 jam – 5 jam per harinya.
  • Hadiah dari perusahaan penerbangan dan kapal laut berupa penerbangan dan pelayaran express ke alam baka.
  • Hadiah dari Kepolisian berupa tilang kepada pengedara roda dua baik itu karena tidak menyalakan headlamp (tidak peduli accu lagi soak, pokoknya lampu harus nyala) maupun karena tidak berkendara di lajur kiri, nggak peduli berapapun banyaknya bus yang nge-tem serta gas buangnya yang sungguh “ramah lingkungan” dan tidak terlihat oleh mata (mata orang buta, red), atau ada yang parkir di lajur kiri kek, pokoknya harus tetap di lajur kiri alias nungguin di belakangnya) sementara karena tidak ada pembatas lajur maka kendaraan roda empat TETAP BOLEH berkendara di lajur kiri dengan kecepatan 20 kmph atau lebih rendah, tanpa ada kemungkinan pengendara roda dua untuk mendahuluinya.
  • Hadiah dari PAM (PALYJA & TPJ), Pertamina (LPG), dan Transjakarta berupa kenaikan tarif air, gas, dan angkutan umum busway.

Gw jadi heran, apakah hadiah-hadiah tahun baru yang memang sangat “surprise” bagi penerimanya ini masih akan terus berlanjut sepanjang tahun 2007? Well, gw sih bukannya tidak senang dengan hadiah-hadiah yang sangat mengejutkan ini, karena gw bukan pendukung pemerintahan yang sekarang (FYI, dulu gw nggak pilih SBY/JK dalam pemilu 2004), tapi gw emang tidak layak lah menerima hadiah seperti ini karena hadiah-hadiah menawan ini utamanya ditujukan kepada mereka pendukung pemerintahan yang sekarang toh? Selamat menikmati.

Pendapat gw tentang Adam Air…

Baru aja beberapa waktu sebelum berita mengenai Adam Air itu, gw selesai baca novelnya Michael Crichton “Airframe”, ternyata sudah ada “praktek”nya. Yeah, mengikuti “perkembangan” berita mengenai Adam Air, gw juga jadi gatel, pengen ngasi opini tentang penerbangan itu.

Sejujurnya, gw sendiri sudah capek mendengar berita-berita yang sama setiap hari. Khususnya mengenai kapal laut (Senopati kalau gak salah?) tenggelam dan pesawat jatuh (Adam Air). Kenapa ya, setiap kali ada kejadian yang dianggap “cukup heboh” seperti ini maka diberitakan di segala waktu? Yeah rite, kemungkinan karena para reporter itu terlalu malas untuk mencari berita lain. Bersenang-senang di atas penderitaan orang lain dengan cara mereka sendiri. Maaf kepada para reporter, but that’s IMHO. Gw nggak tau kalau mungkin memang mereka diminta oleh atasannya untuk meliput berita itu saja, permintaan dari keluarga korban Adam Air (agar pemerintah dan Adam Air mau bertanggung jawab terhadap kejadian ini).

Bagi sebagian besar orang, pesawat Adam Air sekarang sudah crash. Kecelakaan. Tapi gw justru heran dengan pendapat seperti itu. Bukankah Adam Air itu justru hampir nggak mungkin kecelakaan? Kalaupun jatuh, kemungkinan besar di laut. Karena menurut logika gw, sebuah pesawat yang jatuh di darat akan sangat terlihat dengan jelas dari udara.

Daerah Sulawesi tempat diperkirakannya Adam Air jatuh, seperti udah kita lihat sendiri di televisi, itu banyak hutan. Memangnya kalau pesawat jatuh itu tepat searah dengan garis normal? Nggak mungkin! Pasti merusak banyak pohon di bawah dan samping-sampingnya kan? Semua mesin tiba-tiba mati sekalipun nggak akan langsung jatuh ke bawah karena masih ada daya angkat sayap dan pilot pasti masih sempat mengkontak tower. Apalagi sebuah pesawat besar seperti Boeing 737-400 milik Adam Air (yang notabene bercat sangat mencolok) itu. Ditambah lagi kemungkinan pesawat yang jatuh itu terbakar, yang membuatnya semakin mudah terlihat dari udara.

Selain itu, secara logis sebuah pesawat yang terbang tanpa transit lagi dari Surabaya ke Manado, sang pilot pasti akan mencari rute terdekat ke kota itu (yaitu sebuah garis lurus, dengan pengecualian cuaca buruk, badai, dsb mungkin akan sedikit memutar). Data dari kontak dan posisi terakhir pesawat itu dengan menara di bandara Hasanuddin hingga waktu jadwal seharusnya pesawat tiba, bisa menggambarkan perkiraan ujung dan pangkal garis (atau kurva) kemungkinan pesawat jatuh. Ada juga tambahan data yang diperoleh dari sang negara tetangga Singapura. Dengan semua data itu, search area seharusnya menjadi jauh lebih kecil kan, hanya beberapa (puluh?) kilometer di sepanjang garis itu. Mungkin “kecil” itu sendiri kurang tepat, karena memang radius kemungkinannya sangat besar. Tapi dengan tim SAR sebanyak itu (masih dibantu dengan pesawat tambahan dari Singapura dan AS), seharusnya bisa diselesaikan dengan cepat. Cuara buruk kadang-kadang mempengaruhi proses pencarian atau sekedar memperpendek jarak pandang? Apakah itu menjadi alasan untuk menjadi sebegitu lambannya (berhari-hari! sekarang sudah hari keempat)? Cuaca buruk nggak akan sampai sebegitu lamanya toh?

Pencarian lewat darat. Peralatan apa saja yang mereka bawa? Rasanya hampir nggak ada. Kalau memang mereka beranggapan bahwa pesawat itu sudah jatuh di suatu tempat, kenapa mereka nggak bawa suatu alat yang dapat mendeteksi keberadaan sinyal-sinyal seperti misalnya handphone? Ya, gw tau, di daerah seperti itu mungkin nggak ada BTS sehingga para korban yang selamat nggak bisa menghubungi orang lain (ada berita sih, sebuah SMS dari keluarga korban sempat “delivered”, tapi itu masalah lain lagi). Tapi minimal pasti ada yang mencoba menyalakannya dong, dengan harapan mendapatkan sinyal dari BTS atau sinyal HPnya itu ditangkap oleh tim penyelamat? Bisa saja terjadi kalau para korban yang selamat takut terjadi kebakaran hutan atau meledaknya pesawat jika ia membakar sesuatu untuk membuat asap, atau kalau kejadiannya badan pesawat jatuh di laut tapi mereka nggak berani membuka pintu karena air bisa masuk sementara mereka sendiri tidak yakin ada daratan di dekat mereka.

Kesimpulannya, kalau bukan tim pencari itu sendiri yang memang lamban, berarti pesawat tersebut jatuh ke laut (karena memang pencarian di laut masih sangat kurang). Tambahan, berita terakhir kalau ada orang yang menemukan kemungkinan bangkai pesawat Adam Air itu, melalui Google Earth!! Ya ampun!! Kalau sampai ternyata itu benar, wah bikin malu aja..

Spekulasi terakhir yang keluar di televisi, yaitu pesawat meledak di udara sebelum sempat menyentuh tanah/air, yang jauh lebih masuk akal daripada hanya karena “cuaca buruk”.. what a poor excuse! Satu-satunya kejadian alam yang dapat menghancurkan pesawat sampai berkeping-keping sejauh yang gw tau cuma sambaran halilintar, yang rasanya sangat jarang terjadi pada pesawat karena setau gw ada standar tertentu bagi pesawat untuk memantau dan menghindari cuaca yang terlalu buruk.

Kembali ke pemikiran gw bahwa pesawat itu mungkin saja tidak jatuh,… bisa saja memang ada suatu hal yang menyebabkan pesawat itu berubah arah dan menghilang dari pemantauan akibat kesengajaan pihak tertentu… mungkin saja ini kerjaannya teroris (ingat peristiwa 9/11 pembajakan pesawat yang mengubah arah) atau (kedengerannya emang konyol, gw tau) ALIEN o.O

Terjadinya insiden seperti ini juga membuat gw berpikir lagi, sebegitu lengahnyakah kita dalam menjaga wilayah kita sendiri? Kalau menemukan bangkai pesawat saja tidak bisa, bagaimana kita bisa menangkap jika ada teroris, pembalak liar, atau mungkin pendatang gelap yang bersembunyi di wilayah kita? Area yang sekecil itu di Sulawesi aja nggak ter-cover.. apalagi pulau Borneo (Kalimantan) ya? Nggak heran, kalau kita selalu dilecehkan oleh negara-negara tetangga, pelaku penggelapan kayu, dsb… mudah sekali keluar masuk dan melakukan apapun di wilayah Indonesia tanpa diketahui! Malu deh jadi orang Indonesia.