Periplaneta, Blatta, dan Blaberus

Pagi ini saya membaca blog-nya temen saya si Reggy tepatnya di sini mengenai tikus yang sempat “mengunjungi” rumahnya, mengingatkan saya pada binatang-binatang yang biasanya dibenci atau kurang disukai oleh manusia (pest). Bagi saya, binatang itu adalah lipan (kelabang/centipedes) dan roaches (dictyopterous insect, kecoa/kecoak dan kawan-kawannya).

Dari sanalah saya kemudian iseng-iseng melihat di kamus digital dan menemukan bahwa genus kecoak adalah Periplaneta (Nama yang sebenernya cukup keren! Sayang sekali nama ini disandang oleh sekawanan kecoak) dengan “member”nya (sesuai binomial nomenclature) adalah:
* Periplaneta americana – American cockroach
* Periplaneta australasiae – Australian cockroach
Dan ada juga sepupunya, dari jenis Blattidae (suborder Blattaria, Blattodea) yaitu genus Blatta (kecoak yang menghuni gedung di seluruh dunia) yaitu:
* Blatta orientalis – Asiatic cockroach
* Blattela germanica – German cockroach (Croton bug)
Di luar yang saya sebutkan di atas, mungkin masih banyak lagi jenis kecoak, Anda tentunya bisa mencoba mencarinya dengan melakukan googling misalnya mengenai giant cockroach (kecoak yang hidup di daerah tropis Amerika, yang tentunya ukurannya besar, dari genus Blaberus).

Saya sendiri sebelumnya tidak menyangka, ternyata dalam dunia perkecoaan ada istilah “bule” juga yah? Bisa saja ada kecoak Asia yang tergila-gila dengan tampan atau cantiknya kecoak Jerman (Kecoak Jerman disebut juga “water bug”. Entah apakah kecoak Jerman ini memang pandai berenang atau cuma gelar, yang jelas ini dapat menjadi suatu nilai tambah bagi kecoak Asia dalam melihat kecoak Jerman “Wah, udah ganteng/cantik, pinter berenang lagi”). Atau mungkin kecoak Amerika jatuh cinta pada kecoak Asia, suatu cinta yang tabu dalam dunia perkecoaan karena mereka berbeda genus dan spesies sehingga hubungan mereka pun tidak disetujui oleh orangtua mereka.. Kemudian Kecoak Amerika dan kecoak Asia ini kawin lari ke daerah Australia… Lho kok makin lama makin mirip sinetron ya? Okeh okeh, mari kita kembali ke jalan yang benar ^^

Deskripsi untuk Periplaneta americana adalah “Large reddish brown free-flying cockroach originally from southern United States but now widely distributed” sedangkan untuk Blatta orientalis adalah “Dark brown cockroach originally from orient now nearly cosmopolitan in distribution” dan untuk Blatella germanica yaitu “Small light-brown cockroach brought to United States from Europe; a common household pest”. Deskripsi ini ternyata sangat cocok (mirip) dengan warna kulit manusia! Di tempat-tempat beriklim tropis, warna kulit manusianya lebih gelap, dan di Amerika berkulit merah (suku asli Amerika: Indian), juga ada kulit putih (Eropa, dalam hal ini direpresentasikan oleh Jerman). Apakah kemiripan ini merupakan pendukung teori evolusi atau adaptasi pada binatang dan manusia? Who knows. Walaupun banyak yang menyangkal atau menganggapnya tidak benar, namun secara pribadi saya merasa teori Darwin ada kemungkinan benarnya juga karena setiap kali saya melihat kera, monyet, orangutan, dan sejenisnya, saya teringat (dan memang dapat melihat kemiripannya) dengan si Mr.Darwin itu… :P

Well anyways, dengan demikian, jika Anda melihat/menemukan seekor kecoak di manapun itu selama masih di dalam lingkungan perumahan/tempat tinggal, mungkin Anda tertarik untuk mempelajarinya lebih dulu? Kalau saya, tentu tidak! Menulis artikel ini saja sudah membuat saya merinding.

Banjir (2)

Menyambung topik sebelumnya mengenai banjir, tapi sekarang kita masuk ke bagian lain, yaitu bagaimana handphone gw bertahan hampir selalu nyala selama banjir itu (temen-temen gw banyak yang bertanya ttg hal ini). Selama ini gw nggak pernah punya mobile charger. Seandainya ada, nge-charge akan menjadi hal yang sangat mudah, simple, sederhana, dll. Akibat tidak adanya mobile charger ini (hp gw dipakai terus, entah itu buat telpon, sms dari yang penting sampe nggak penting, sinyal lemah banget, dll jadi baterenya cepet habis) maka pada waktu itu gw membuat sebuah “charger darurat” dari komponen2 elektronik dasar yang ada di laci gw… seperti ini:

2007 02 15 - 01

Di gambar keliatan bahwa rangkaian yang gw buat itu tanpa PCB, maklumlah namanya juga darurat, dan karena tidak ada listrik maka solder pun menjadi tidak berguna. Semua sambungan di rangkaian ini gw solder dengan kawat solder dan lilin sebagai sumber panasnya. Hasilnya? Di setiap ujung kabel gw jadi berwarna hitam atau malah banyak yang sempat terbakar (jangan tanya kenapa gw nggak memanaskan lempengan logam lebih dulu sebagai soldering iron, gw terlalu nggak sabar untuk melakukan itu. Di samping itu keadaan kan juga gelap sekali karena gw mengerjakannya malam2, hanya bermodalkan sebuah lilin dan sebuah lampu minyak sebagai penerangannya).

Rangkaian yang gw pakai udah gw tulis di gambar itu, komponen utamanya adalah LM317T sebagai regulator tegangan, resistor untuk pembagi tegangan 1KOhm (karena gw cuma punya resistor jenis ini, maka gw paralel 3 buah supaya outputnya sesuai atau mendekati yang gw mau), sebuah resistor 120Ohm (ngga terlalu keliatan di gambar, tapi deket2 situ lah hehehe), dan sisanya cuma konektor-konektor. Dalam gambar kelihatan jelas bahwa rangkaian itu banyak yang terpisah. Kenapa? Karena menyolder pakai lilin itu susah banget!!! Dan rangkaian ini memang harus sering gw putus-sambung mengikuti konektor supply input yang tersedia. Di gambar juga ada soket cigarette lighter yang gw sambungkan M dan F nya, untuk nge charge baterai AA (yang kabelnya melingkar, sophisticated banget itu emang bawaan dari chargernya) bisa langsung ke accu, sedangkan untuk nge charge baterai HP harus pakai regulator yang disolder seadanya itu tadi. Baterai AA harus gw charge juga tentunya, karena gw pake untuk kamera digital, senter, dan radio.

Karena gw agak was-was dengan kemampuan “regulasi tegangan dan arus” si LM317 ini (namanya juga mati listrik, ga bisa cek datasheet), apalagi karena arus accu yang guedhe banget itu bikin dia jauh lebih cepet panas dari yang gw perkirakan (liat di foto donggggg, heatsink nya cuma seiprit githu), maka untuk nge charge baterai HP gw pake accu kering 6V (sealed lead acid) yang biasanya dipakai untuk emergency lamp. Oh ya, yang gw maksud dengan nge charge batere hp itu bukannya gw pasang ke colokan yang ada di bool HP yah, karena gw udah coba, nggak bisa (malah karena konektornya nggak bener HP gw sempet masuk ke “local mode”, ga tau deh itu apaan). Jadi untuk nge-charge gw kudu cabut batere dulu dan tempel kabel ke batere pake selotip…. Dengan cara primitif inilah, akhirnya HP CDMA gw berhasil hampir selalu aktif selama listrik mati.

Selain dengan cara gw yang primitif itu tadi, temen-temen gw bisa tetep “on” karena ada yang punya mobile charger, ada yang emang ngungsi ke rumah/apartemen sodara, atau di hotel (listriknya ga mati lah yaaa), dan terakhir yang paling parah, ada yang nge-charge di tetangganya pakai genset.. (parahnya knp? karena utk sekali nge-charge hp sampe full itu, temen gw harus bayar Rp 5000,-!!! kesempatan dalam kesempitan banget tuh orang… mungkin kalo menurut pengusaha, ini namanya “jeli dalam melihat peluang bisnis”).

Saat ini gw nggak sepenuhnya menyalahkan Sutiyoso (walaupun memang ia punya andil karena di otaknya hanya ada Busway), maupun presiden SBY, karena memang ini juga akibat warga Jabodetabek yang nggak menjaga lingkungan dengan baik sehingga menjadi rawan banjir, apalagi mengingat Jakarta yang memang merupakan dataran rendah (bahkan sebagiannya lebih rendah dari permukaan laut karena Jakarta memang berbentuk cekungan atau “mangkok”).

Mengenai penyebab banjir… gw nggak akan mengkomentari mengenai pembangunan properti yang menyalahgunakan tataruang, penutupan tempat-tempat resapan air dengan bahan concrete, pembuangan sampah sembarangan, penyedotan air tanah besar-besaran, atau yang semacamnya, karena gw yakin hampir semua orang sudah tahu tentang hal itu. Gw cuma mau share, gw dapet kabar bahwa orang management dari PIK membuat tanggul dan membayar orang marinir sebesar Rp 1M untuk menjaga Cengkareng Drain supaya tidak dibuka. Karena itulah banjir kali ini jauh lebih tinggi daripada banjir tahun 2002. Impact dari kelakuan orang-orang PIK ini tidak hanya daerah-daerah di sekitar PIK, tapi sebagian besar daerah Jakarta Barat seperti Teluk Gong, Bojong Indah, Permata Buana, Green Garden (Kedoya), dan daerah-daerah sekitarnya. Gw nggak tau pasti kebenaran berita ini, tapi sangat masuk akal karena dari yang gw perhatikan banjir kali ini airnya tidak mengalir seperti tahun 2002, tapi lebih cenderung diam atau statis, karena tidak ada daerah yang lebih rendah untuk dialiri. Mungkin Cengkareng Drain itu tidak ditutup sama sekali, melainkan “dijaga debitnya” supaya daerah2 perumahan elite yang sedang dipasarkan itu tidak kebanjiran (kalau sampai kebanjiran maka nggak akan laku, wong dijual mahal-mahal kok banjir, apalagi konglomerat2 yang mau beli rumah baru tapi ada tanda bekas banjirnya, bikin gengsi jatuh aja, management-pemasaran PIK bisa kehilangan muka). In Indonesia, especially Jakarta, money talks.

Banjir (1)

Wah, maaph atas berita dan “ulasan” ini yang sangat sangat sangat terlambat, maklum, secara gw juga merupakan korban banjir walaupun ga sampe masuk seluruh rumah hehehe. Lalu kemaren2 sempat dilanda lemotnya internet StarOne juga, makanya ga bisa upload. Trus sibuk deh, sampe sekarang =P

Air ini, menggenangi daerah gw mulai tanggal 2 Februari 2007 sampe tanggal 8 di bulan dan tahun yang sama. Yang membuat sengsara bukan banjir itu sendiri, tapi MATI LISTRIKKKKK….ohhhh betapa menyebalkannya jika mati listrik lebih dari 2 hari! (Maklum, nggak punya genset). Dalam kasus gw, pemadaman listrik terjadi mulai tanggal 2 sampai tanggal 9. Nyamuk Jakarta yang ganas itu membuatku tidak bisa tidur malam selama seminggu penuh!

Anyways, beginilah keadaan di ujung jalan rumah gw:

2007 02 01 - 01
1 Feb 2007 – air baru meluap sejak pagi, masih belum deras…perlu diketahui bahwa sebenernya ini udah terjadi sejak 1 Feb pagi, cuma sayangnya waktu itu gw males keluar rumah jadi nggak foto pagi/siangnya hehehe

2007 02 01 - 02
1 Feb 2007 – foto diambil dalam waktu yang hampir sama dengan foto pertama, dan keliatan di gambar kedua ini, ada jalan yang masih agak kering, nahh di situ ada deretan rumah2 yang nggak kena banjir…

2007 02 02 - 01
2 Feb 2007 – air mulai naik, tapi ini sebelum banjir yang tertinggi lho… karena saat banjir tertinggi, itu artinya banjir terderas juga, nanti bawa2 kamera jatuh lagi, selain dalamnya mencapai sepinggang lebih, arusnya deras, aspalnya pun copot semua (see in the next photo).

2007 02 08 - 01
8 Februari 2007 – inilah sisa banjir…. daripada sebutan “afterflood”, foto ini lebih seperti “afterquake”yah? Perlu diketahui, bahwa “dua buah benda” di tengah jalan yang seperti batu pijakan besar itu adalah ASPAL, yang tingginya sama dengan air dan aspal di belakangnya. Dengan kata lain, aspal di jalan itu luluh lantak tersapu air…

Dengan kata lain, di daerah gw ini ketinggian banjirnya beragam akibat ketinggian jalan yang berbeda-beda juga. Mulai dari yang rumahnya nggak terendam banjir (paling hanya pekarangan) sampai yang jalanannya terendam banjir sampai lebih tinggi dari manusia dewasa. Paling kasihan memang yang kena banjir paling tinggi (dalam), karena bukan hanya hampir seluruh harta bendanya terendam air dan rusak, tapi juga membersihkan rumah yang selalu paling terakhir dan paling sulit (karena tidak hanya air yang bermuara di sana, tetapi juga sampah-sampah, lumpur, dan lain sebagainya). Kalau dipikir-pikir, mungkin sebenarnya jenis rumah yang paling baik untuk kota Jakarta ini adalah rumah panggung…

Selama banjir itu, cukup banyak hal yang unik, aneh, lucu, menyedihkan yang terjadi di lingkungan gw maupun teman-teman gw yang juga terkena impact-nya. Mulai dari yang pelihara ikan di kolam (ikannya keluar, jadi pintu rumah dijaga jangan sampai terbuka, tapi setelah banjir surut ikannya malah tambah banyak karena ada ikan yang berenang dari luar, entah masuk dari mana), sampai yang mengungsi ke hotel naik gerobak. Sayang sekali, hanya sedikit yang mendokumentasikan hal-hal ini karena terburu-buru, tidak punya kamera, tidak terpikir, dlsb. Padahal menurut gw dokumentasi adalah salah satu hal penting yang harus dilakukan, karena bisa dipakai untuk review di masa datang, dan tentunya sebagai bahan nostalgia nanti (banjir ini memang siklus 5 tahunan, tapi belum tentu tahun 2012 terjadi lagi kalau banjir kanal timur sudah rampung seperti yang dijanjikan oleh gubernur kita) =P.

Berdasarkan survey yang kami lakukan (cieee… padahal sendirian tuh, pake “kami” segala…) ternyata korban banjir malah makan jauh lebih banyak daripada yang tidak banjir, makanan yang tersedia di rumah malah lebih seperti pesta besar. Ada masakan cumi, ayam, ikan, dan lain sebagainya. Tahu sebabnya? Bukan karena senang atau bersyukur atas datangnya banjir, tetapi karena listrik mati! Kulkas tidak dingin, akhirnya semua bahan makanan harus dimasak supaya tidak mubanjir… eh, mubazir. Nah, mulai memasuki hari keempat itulah biasanya baru mulai kesulitan pangan…. indomie menjadi andalan utama bagi yang tidak punya stock apa-apa lagi). Dan sebagai (orang yang mangaku) korban banjir, kami2 juga sempat mendapatkan jatah makanan seperti nasi bungkus, roti satu loaf, dan lain-lain lah, tergantung gesitnya kalo ada yang bagi2 aja (gak gesit ga dapettttt).

Dan karena pembaca blog gw ini pernah komplain akibat artikel yang terlalu panjang, maka cerita ini bersambung ke bagian kedua :D