Banjir (2)

Menyambung topik sebelumnya mengenai banjir, tapi sekarang kita masuk ke bagian lain, yaitu bagaimana handphone gw bertahan hampir selalu nyala selama banjir itu (temen-temen gw banyak yang bertanya ttg hal ini). Selama ini gw nggak pernah punya mobile charger. Seandainya ada, nge-charge akan menjadi hal yang sangat mudah, simple, sederhana, dll. Akibat tidak adanya mobile charger ini (hp gw dipakai terus, entah itu buat telpon, sms dari yang penting sampe nggak penting, sinyal lemah banget, dll jadi baterenya cepet habis) maka pada waktu itu gw membuat sebuah “charger darurat” dari komponen2 elektronik dasar yang ada di laci gw… seperti ini:

2007 02 15 - 01

Di gambar keliatan bahwa rangkaian yang gw buat itu tanpa PCB, maklumlah namanya juga darurat, dan karena tidak ada listrik maka solder pun menjadi tidak berguna. Semua sambungan di rangkaian ini gw solder dengan kawat solder dan lilin sebagai sumber panasnya. Hasilnya? Di setiap ujung kabel gw jadi berwarna hitam atau malah banyak yang sempat terbakar (jangan tanya kenapa gw nggak memanaskan lempengan logam lebih dulu sebagai soldering iron, gw terlalu nggak sabar untuk melakukan itu. Di samping itu keadaan kan juga gelap sekali karena gw mengerjakannya malam2, hanya bermodalkan sebuah lilin dan sebuah lampu minyak sebagai penerangannya).

Rangkaian yang gw pakai udah gw tulis di gambar itu, komponen utamanya adalah LM317T sebagai regulator tegangan, resistor untuk pembagi tegangan 1KOhm (karena gw cuma punya resistor jenis ini, maka gw paralel 3 buah supaya outputnya sesuai atau mendekati yang gw mau), sebuah resistor 120Ohm (ngga terlalu keliatan di gambar, tapi deket2 situ lah hehehe), dan sisanya cuma konektor-konektor. Dalam gambar kelihatan jelas bahwa rangkaian itu banyak yang terpisah. Kenapa? Karena menyolder pakai lilin itu susah banget!!! Dan rangkaian ini memang harus sering gw putus-sambung mengikuti konektor supply input yang tersedia. Di gambar juga ada soket cigarette lighter yang gw sambungkan M dan F nya, untuk nge charge baterai AA (yang kabelnya melingkar, sophisticated banget itu emang bawaan dari chargernya) bisa langsung ke accu, sedangkan untuk nge charge baterai HP harus pakai regulator yang disolder seadanya itu tadi. Baterai AA harus gw charge juga tentunya, karena gw pake untuk kamera digital, senter, dan radio.

Karena gw agak was-was dengan kemampuan “regulasi tegangan dan arus” si LM317 ini (namanya juga mati listrik, ga bisa cek datasheet), apalagi karena arus accu yang guedhe banget itu bikin dia jauh lebih cepet panas dari yang gw perkirakan (liat di foto donggggg, heatsink nya cuma seiprit githu), maka untuk nge charge baterai HP gw pake accu kering 6V (sealed lead acid) yang biasanya dipakai untuk emergency lamp. Oh ya, yang gw maksud dengan nge charge batere hp itu bukannya gw pasang ke colokan yang ada di bool HP yah, karena gw udah coba, nggak bisa (malah karena konektornya nggak bener HP gw sempet masuk ke “local mode”, ga tau deh itu apaan). Jadi untuk nge-charge gw kudu cabut batere dulu dan tempel kabel ke batere pake selotip…. Dengan cara primitif inilah, akhirnya HP CDMA gw berhasil hampir selalu aktif selama listrik mati.

Selain dengan cara gw yang primitif itu tadi, temen-temen gw bisa tetep “on” karena ada yang punya mobile charger, ada yang emang ngungsi ke rumah/apartemen sodara, atau di hotel (listriknya ga mati lah yaaa), dan terakhir yang paling parah, ada yang nge-charge di tetangganya pakai genset.. (parahnya knp? karena utk sekali nge-charge hp sampe full itu, temen gw harus bayar Rp 5000,-!!! kesempatan dalam kesempitan banget tuh orang… mungkin kalo menurut pengusaha, ini namanya “jeli dalam melihat peluang bisnis”).

Saat ini gw nggak sepenuhnya menyalahkan Sutiyoso (walaupun memang ia punya andil karena di otaknya hanya ada Busway), maupun presiden SBY, karena memang ini juga akibat warga Jabodetabek yang nggak menjaga lingkungan dengan baik sehingga menjadi rawan banjir, apalagi mengingat Jakarta yang memang merupakan dataran rendah (bahkan sebagiannya lebih rendah dari permukaan laut karena Jakarta memang berbentuk cekungan atau “mangkok”).

Mengenai penyebab banjir… gw nggak akan mengkomentari mengenai pembangunan properti yang menyalahgunakan tataruang, penutupan tempat-tempat resapan air dengan bahan concrete, pembuangan sampah sembarangan, penyedotan air tanah besar-besaran, atau yang semacamnya, karena gw yakin hampir semua orang sudah tahu tentang hal itu. Gw cuma mau share, gw dapet kabar bahwa orang management dari PIK membuat tanggul dan membayar orang marinir sebesar Rp 1M untuk menjaga Cengkareng Drain supaya tidak dibuka. Karena itulah banjir kali ini jauh lebih tinggi daripada banjir tahun 2002. Impact dari kelakuan orang-orang PIK ini tidak hanya daerah-daerah di sekitar PIK, tapi sebagian besar daerah Jakarta Barat seperti Teluk Gong, Bojong Indah, Permata Buana, Green Garden (Kedoya), dan daerah-daerah sekitarnya. Gw nggak tau pasti kebenaran berita ini, tapi sangat masuk akal karena dari yang gw perhatikan banjir kali ini airnya tidak mengalir seperti tahun 2002, tapi lebih cenderung diam atau statis, karena tidak ada daerah yang lebih rendah untuk dialiri. Mungkin Cengkareng Drain itu tidak ditutup sama sekali, melainkan “dijaga debitnya” supaya daerah2 perumahan elite yang sedang dipasarkan itu tidak kebanjiran (kalau sampai kebanjiran maka nggak akan laku, wong dijual mahal-mahal kok banjir, apalagi konglomerat2 yang mau beli rumah baru tapi ada tanda bekas banjirnya, bikin gengsi jatuh aja, management-pemasaran PIK bisa kehilangan muka). In Indonesia, especially Jakarta, money talks.

2 Responses to “Banjir (2)”

  1. yudhingeblog Says:

    saya salut dan bangga, anda sebagai mahasiswaq SK berhasil berinovasi, berkreasi, unutk jeli melihat penyelesain dari suatu masalah dnegan rangkaian seadanya…

    jika ada kalpataru pasti saya berikan untuk anda….

  2. riski Says:

    kang tolong kirimin gua gambar rangkaian charget accu 12V beserta caranya,,tolong ya kang,,,!


Leave a Reply