Jakarta Fair 2007

Sejak kecil gw selalu bingung kenapa PRJ (Pekan Raya Jakarta) di-translate ke bahasa Inggris menjadi Jakarta Fair. Karena yang gw tau fair itu artinya kurang lebih “objektif”, “tidak berat sebelah”, dsb (adjective/kata sifat). Menurut definisi kamus WordWeb, salah satu arti fair (adjective) adalah “Free from favouritism or self-interest or bias or deception; conforming with established standards or rules” . Tapi ternyata di samping itu masih banyak definisi lain lho. Misalnya “Very pleasing to the eye” (contoh: “young fair maidens” ). Dan masih ada sekitar 8 arti lain untuk adjective. Selain itu kata fair juga dapat berfungsi sebagai noun/kata benda (4 definisi), verb/kata kerja (1 definisi), dan adverb/kata keterangan (2 definisi). Wah ternyata dari dulu pengetahuan gw yang masih sangat sempit. Dalam hal Jakarta Fair, maka fair di sini berfungsi sebagai noun yang artinya mungkin paling tepat adalah “Gathering of producers to promote business” .

Dulu waktu masih kecil gw seneng banget ke PRJ, karena biasanya dapet mainan baru hehehe.. entah itu mobil remote control, mobil yang kalo nabrak bisa mundur lagi dan belok sendiri, gasing, yoyo, wah macem-macem deh pokoknya. Maklum, dulu ada i’ie gw yg karena pekerjaan di perusahaannya jadi tiap tahun ada di sana. Gw juga udah ga inget dulu PRJ itu seperti apa (perlu diketahui bahwa PRJ ada di Kemayoran baru sejak tahun 1991; sebelumnya PRJ berlokasi di jalan silang Monas).

Dari iseng-iseng melihat archive yang ada di Internet saat ini, ternyata bisa memberikan gw (kita) lebih banyak lagi info mengenai PRJ tempoe doeloe: sejarahnya, perkembangannya, dan perubahannya. Misalnya kenyataan bahwa PRJ sekarang sepenuhnya berorientasi bisnis, beda dengan dulu yang konsepnya adalah “hiburan rakyat dan bazaar”. Nggak percaya? Makanya, mari kita buka halaman ini tentang PRJ yang berubah dengan PRJ-PRJ sebelumnya, halaman ini tentang awal yang mengilhami diadakannya PRJ, dan yang ini mengenai Bandara Kemayoran sebelum ditempati oleh PRJ dan berbagai perencanaannya.

Terasa sekali, bahwa PRJ sekarang memang sudah terlalu dikomersilkan. Produk-produk yang dijual di PRJ biasanya lebih mahal atau sama dengan harga pasar; harga yang lebih murah itu jarang ditemui. Tiket masuk yang harganya sama dengan satu kali nomat di bioskop. Bahkan dari pengalaman tahun lalu, ke WC saja bayar.

Sekarang mari kita beranjak ke PRJ tahun ini. Kita langsung ke event-nya saja ya, detail mengenai keberangkatan dan kepulangan gw bersama dgn Yudhi dan SH yang kacau itu dibuang ke laut aja, gregetan mikirinnya. Diadakan 14 Juni sampai 15 Juli 2007, seperti tahun-tahun sebelumnya, PRJ diadakan semasa liburan sekolah dan perayaan ulang tahun Kota Jakarta. Masuk dari gedung pusat niaga JIExpo, nyaris seluruh gedung ini terisi oleh penjual komputer. Namun begitu keluar dari gedung, sepertinya pameran didominasi oleh pabrik atau distributor kendaraan bermotor serta parts-nya (Honda, Kawasaki, IRC dsb) dan rokok (Djarum Black, L.A. Lights). Uh. I hate smoke.

Suasana PRJ (outdoor) Suasana salah satu stand =P~

Di bagian lain ada penjual baju, alat rumah tangga, dsb. Jalan terus ke arah sana, mulai terlihat stand penjual makanan. Lalu terlihat panggung utama.

Main Stage PRJ Kemayoran

Kemudian terus ke arah Gambir Expo. Lagi-lagi kendaraan bermotor (Toyota Auto 2000) dan aneka Jeans. Somewhere along the way ada jalan menuju danau buatan dan panggung kecil untuk band-band ‘pemula’.

Another Stage for Indies

Di dekatnya ada beberapa wahana bermain anak-anak (untuk naik wahana harus bayar tentunya).

Balon terbang yg diikat sbg wahana anak2

Secara umum, lokasi tenant-tenant yang ada di sana sama dengan tahun lalu (dan dengan tahun-tahun sebelumnya, tabun), kecuali beberapa yang beda.

Tujuan utama gw ke sana adalah mencari sepatu murah, yang ternyata niat gw itu kandas begitu saja ketika melihat keramaian pada berbagai toko penjual baju dan sepatu yang murah-murah diserbu pengunjung. Maklum gw perginya Jumat malam, sudah terhitung weekend, jadi rame banget.

Saat itu gw juga penasaran dengan rasa kerak telor. Ternyata? Huh. Mengecewakan. I thought kerak telor was something extraordinary. Cobalah Anda makan kerak telor tanpa minum, dijamin umur anda langsung berkurang satu tahun. Rasanya pun standar.

Kerak Telor

Dan setelah menghabiskan hidangan itu (dengan agak terpaksa, sayang karena harganya mahal) gw tiba-tiba terpikir sesuatu, yang sepertinya terlewat dari perhatian Yudhi dan SH. “hey.. I didn’t see these guys (penjual kerak telor) brought any water with them… I wonder how they wash the spoons?” and YES, YOU’RE RIGHT. They just simply DON’T. (KOITSUUUUUUU…!!!) Sendok-sendok bekas makan itu hanya dilap dengan sebuah lap kering, (yang kebersihan lap-nya itu sendiri pun diragukan). Oh my… kalau orang yang makan sebelum gw itu cewek cakep & baek2 sih nggak apa-apa… tapi gimana kalau orang yang penyakitan? Kotor? Atau orang-orang jahat yang sengaja menebarkan bubuk anthrax di situ? Ugh. (Okelah kalo anthrax mungkin memang agak berlebihan; tapi segala sesuatu mungkin saja terjadi kan?). Jadi, saran gw untuk kalian yang penasaran dengan rasa kerak telor: DON’T BUY IT. YOU’LL REGRET IT IF YOU DO. Kalaupun somehow kalian suka dengan kerak telor, bring your own spoon, eat it like eating a hotdog (yes they have paper on the plate), or just eat it with your bare hand. It surely is more sanitary.

Oh ya, selama di sana juga gw ngga melihat satuan pengamanan dalam jumlah yang cukup; baik polisi maupun satpam. Lalu bagaimana seandainya terjadi pencopetan? Perampokan? Atau malah perkelahian antar personal atau kelompok? Bukan ga mungkin terjadi kan? Sepertinya pihak JIExpo “kelupaan” untuk hal yang satu ini ya… aneh, mengingat bahwa sebenarnya orang-orang dulu malas datang ke PRJ karena daerahnya yang sangat rawan terhadap kriminalitas.

Dateng lagi gak ya tahun depan… will it still be worthy enough? We’ll see.

Japan Evolution (J-Vo)

Hmm, udah lama nggak nge-blog pake bahasa Indo. Mari kita berbahasa Indonesia hari ini. Maaf atas ulasan artikel J-Vo dan Jakarta Fair yang sangat terlambat akibat kesibukan keseharian saya belakangan ini ^^

Japan Evolution

Tanggal 6-8 Juli 2007 lalu di Function Hall 3A – WTC Mangga Dua ada festival kebudayaan Jepang, gw pergi cuma tanggal 6 dan 8 aja karena hari Sabtu…. males. Hehehe. Festival ini diselenggarakan oleh Nippon Club Universitas Bina Nusantara dengan nama Japan Evolution, disingkat J-Vo, yang memperlihatkan evolusi Jepang dari waktu ke waktu selama 3 hari (mulai dari tradisional sampai yang modern). Diadain tanggal segitu mungkin supaya deket dengan festival Tanabata yah, yang di Jepang aslinya diadain tanggal 7 Juli atau 7 Agustus (tergantung kalendernya; Gregorian atau Jepang). Baca lebih jauh tentang Tanabata di sini.

Karena festival ini Tanabata, maka ada pohon bambu di mana kita bisa menggantungkan tanzaku (kertas kecil yang berisi harapan2, permintaan2, dsb), ada Miss Tanabata juga lho (sayangnya gw ga lihat, karena itu adanya hari Jumat siang, hari Jumat itu gw baru sampe WTC sekitar jam 6 sore). By the way, seharusnya (kalo menurut tradisi aslinya) setelah festival itu nanti pohon bambu beserta dekorasi2nya itu dibakar atau dialirkan di sungai; ga tau yah kalo Nippon Club diapain itu? Dan waktu itu gw sempet baca cukup banyak wishlist, rata-rata isinya mirip2:
a. ingin cepet lulus (kuliah, ujian, dsb) dan cepet dapet kerja,
b. ingin diterima/jadian dgn ce/co yg ditaksir,
c. ingin kaya (materiil).
Jadi gambaran mengenai desire manusia saat ini kurang lebih masih sama dengan yang telah umum diketahui: harta, tahta, dan wanita.

Mengenai acara hari Jumat dan deskripsi beberapa stand dan pameran yang ada di J-Vo, silakan baca di blog-nya Yudhi aja di sini. Gw juga nggak mengulas banyak acara di J-Vo karena berbagai alasan, misalnya pertunjukan yoyo, karena pertunjukan yoyo kan nggak seru kalau cuma dilihat dari foto. Karena itu saya serahkan ulasannya pada mereka-mereka yang saat itu membawa handycam dan upload bandwidthnya gede saja ya hehehe.

Sebenarnya secara overall acaranya sudah bagus, hanya saja banyak hal-hal kecil (detail) yang sering terlupakan, terutama terlihat saat cosplay party. Pemanggilan terhadap cosplayer sepertinya hanya dilakukan oleh MC, itupun MC-nya hanya memanggil cosplayer yang sudah harus naik ke panggung tanpa mengumumkan cosplayer yang harus bersiap-siap, sehingga banyak cosplayer yang tidak bisa naik ke atas panggung (wajar, karena saat itu satu nomor/kelompok saja bisa terdiri sampai 30 orang sedangkan tempat di samping panggung sangat terbatas, pintu untuk ke backstage juga kecil). Selain itu banyak cosplayer yang meminta agar lagu atau instrumen tertentu disiapkan sebelumnya, namun ternyata tidak ada. Sampai-sampai ada beberapa cosplayer yang harus menunggu di atas panggung bermenit-menit sementara lagu/instrumen itu dicarikan. Hal ini juga terjadi pada pertunjukan cabaret, entah ada bagian rekaman yang hilang, pemain yang tidak siap, atau bagaimana? Juga keberadaan beberapa mic-stand di tengah-tengah panggung yang mengganggu dan baru dipindahkan setelah cosplay party sudah setengah jalan. Jadinya sebagian hasil jepretan/rekaman milik audience tertutup oleh mikrofon deh.

Berikut ini adalah beberapa foto hasil jepretan saya (jangan protes dengan banyaknya bintik-bintik pada hasil jepretan… itu diakibatkan oleh gw yg pernah membongkar badan kamera krn suatu hal dan lupa membersihkan lensanya kembali). Semua foto di-resize dan/atau di-crop menjadi 640×480 demi menyelamatkan bandwidth dan quota gw yang sangat fakir ini.

Harajuku Dancer + Fog -.-’

Harajuku dancer. Ini adalah foto pertama yg gw ambil tanggal 8 Juli 2007. Pelajaran dalam memotret: hindari memotret saat fogger sedang bekerja… apalagi memakai blitz. Ada yang versi bagusnya sih (setelah fog hilang), tapi gw males uploadnya hehehe.

Cosplay

Menurut gw, ini cosplay original terbaik. Terutama costume yg dipakai oleh pemain kedua dari kiri (yang pakai nomor), cool.

Cosplay

Simple. Dan ceweknya cakep (my type) hehehe.

Cosplay

Non… itu ati-ati sayapnya jatuh… tapi ini sayap terbagus sepanjang cosplay party lho.. terlihat dinamis. Cosplayer yang lain kebanyakan sayapnya dari styrofoam jadi terlalu kaku.

Cosplay

Kenapa yah cosplayer yang satu ini mengingatkan gw pada Aming? Is it just me?

Cosplay

Cosplayer paling kocak sepanjang cosplay party. Thanks to MC nya yang lucu juga sih. Bahkan temen gw si FS yang orangnya superserius itu bisa sampai terkekeh2 berkali-kali.. baru kali ini ngeliat dia bisa seperti itu. Yokatta.

Cosplay

Hmmmmm, Mamoru Chiba sepertinya udah agak funky sekarang, rambutnya disemir jadi blonde. Usagi… no offense but I think you need to lose a few pounds.

Cosplay

Wah, yang ini mirip banget sama Kakashi!!! Salute!! Cosplayer yang satu ini udah standby di sekitar arena J-Vo dari awal2 sebelum cosplay party dimulai lho. Ada beberapa cewek yg sempet minta foto bareng dia pula. Kalo gw sempet vote waktu itu, gw pilih dia deh.

Cosplay

Sejujurnya gw ga tau ini dari anime/film apa? Anyone have a clue? Yang jelas group ini terdiri dari (kalo ga salah) 30 orang. Niat banget yah? Mungkin di Binus mereka berasal dari satu kelas yang sama. Untunglah panggungnya nggak ambruk.

Cosplay

Keluar dari TV… hmmm… pasti Anda sudah tau dong ini apa :D

Sebenarnya, selain keputusan juri, audience juga diperbolehkan untuk “memberi suara”, siapa yang berhak menjadi pemenang cosplay party ini, namun sepertinya panitia kurang mengantisipasi kenyataan bahwa audience lebih tertarik untuk menyaksikan acara di panggung daripada mengisi voting. Apalagi waktu untuk memberi suara hanya beberapa belas menit setelah cosplay party akibat salah timing dan berbagai kesalahan teknis. Apalagi stand untuk pemberian dukungan itu jauh di belakang, jadi banyak yang memilih untuk tidak beranjak dari tempatnya berdiri (termasuk gw). Menurut gw seharusnya selama voting dilakukan tidak ada pentas di panggung, setidaknya selama kurang lebih 1 jam, jadi banyak yang tertarik untuk mendukung cosplayer favoritnya.

Cabaret

Nah yang ini udah bukan cosplay lagi. Ini pertunjukan cabaret. Gw paling demen sama yg di tengah. Cocok jadi artis tuh kayaknya.

Cabaret

Ini juga cabaret… ahhhh tolong ada adegan vulgarrrrr!!! *SENSOR*

Stand J-Vo

Foto ini diambil sesaat sebelum keluar dari arena J-Vo. Gw motretnya dari deket stand takoyaki. Rame kan.

Pintu Keluar-Masuk J-Vo

Salah satu pintu keluar-masuk J-Vo. Ini juga gambar terakhir yang gw abadikan sebelum pulang. Hiks.. jadi sedih. Bye-bye J-Vo. Nippon Club, I’m waiting for your next event. I’ll come again. Zettai ni.