Sejak kecil gw selalu bingung kenapa PRJ (Pekan Raya Jakarta) di-translate ke bahasa Inggris menjadi Jakarta Fair. Karena yang gw tau fair itu artinya kurang lebih “objektif”, “tidak berat sebelah”, dsb (adjective/kata sifat). Menurut definisi kamus WordWeb, salah satu arti fair (adjective) adalah “Free from favouritism or self-interest or bias or deception; conforming with established standards or rules” . Tapi ternyata di samping itu masih banyak definisi lain lho. Misalnya “Very pleasing to the eye” (contoh: “young fair maidens” ). Dan masih ada sekitar 8 arti lain untuk adjective. Selain itu kata fair juga dapat berfungsi sebagai noun/kata benda (4 definisi), verb/kata kerja (1 definisi), dan adverb/kata keterangan (2 definisi). Wah ternyata dari dulu pengetahuan gw yang masih sangat sempit. Dalam hal Jakarta Fair, maka fair di sini berfungsi sebagai noun yang artinya mungkin paling tepat adalah “Gathering of producers to promote business” .
Dulu waktu masih kecil gw seneng banget ke PRJ, karena biasanya dapet mainan baru hehehe.. entah itu mobil remote control, mobil yang kalo nabrak bisa mundur lagi dan belok sendiri, gasing, yoyo, wah macem-macem deh pokoknya. Maklum, dulu ada i’ie gw yg karena pekerjaan di perusahaannya jadi tiap tahun ada di sana. Gw juga udah ga inget dulu PRJ itu seperti apa (perlu diketahui bahwa PRJ ada di Kemayoran baru sejak tahun 1991; sebelumnya PRJ berlokasi di jalan silang Monas).
Dari iseng-iseng melihat archive yang ada di Internet saat ini, ternyata bisa memberikan gw (kita) lebih banyak lagi info mengenai PRJ tempoe doeloe: sejarahnya, perkembangannya, dan perubahannya. Misalnya kenyataan bahwa PRJ sekarang sepenuhnya berorientasi bisnis, beda dengan dulu yang konsepnya adalah “hiburan rakyat dan bazaar”. Nggak percaya? Makanya, mari kita buka halaman ini tentang PRJ yang berubah dengan PRJ-PRJ sebelumnya, halaman ini tentang awal yang mengilhami diadakannya PRJ, dan yang ini mengenai Bandara Kemayoran sebelum ditempati oleh PRJ dan berbagai perencanaannya.
Terasa sekali, bahwa PRJ sekarang memang sudah terlalu dikomersilkan. Produk-produk yang dijual di PRJ biasanya lebih mahal atau sama dengan harga pasar; harga yang lebih murah itu jarang ditemui. Tiket masuk yang harganya sama dengan satu kali nomat di bioskop. Bahkan dari pengalaman tahun lalu, ke WC saja bayar.
Sekarang mari kita beranjak ke PRJ tahun ini. Kita langsung ke event-nya saja ya, detail mengenai keberangkatan dan kepulangan gw bersama dgn Yudhi dan SH yang kacau itu dibuang ke laut aja, gregetan mikirinnya. Diadakan 14 Juni sampai 15 Juli 2007, seperti tahun-tahun sebelumnya, PRJ diadakan semasa liburan sekolah dan perayaan ulang tahun Kota Jakarta. Masuk dari gedung pusat niaga JIExpo, nyaris seluruh gedung ini terisi oleh penjual komputer. Namun begitu keluar dari gedung, sepertinya pameran didominasi oleh pabrik atau distributor kendaraan bermotor serta parts-nya (Honda, Kawasaki, IRC dsb) dan rokok (Djarum Black, L.A. Lights). Uh. I hate smoke.
Di bagian lain ada penjual baju, alat rumah tangga, dsb. Jalan terus ke arah sana, mulai terlihat stand penjual makanan. Lalu terlihat panggung utama.
Kemudian terus ke arah Gambir Expo. Lagi-lagi kendaraan bermotor (Toyota Auto 2000) dan aneka Jeans. Somewhere along the way ada jalan menuju danau buatan dan panggung kecil untuk band-band ‘pemula’.
Di dekatnya ada beberapa wahana bermain anak-anak (untuk naik wahana harus bayar tentunya).
Secara umum, lokasi tenant-tenant yang ada di sana sama dengan tahun lalu (dan dengan tahun-tahun sebelumnya, tabun), kecuali beberapa yang beda.
Tujuan utama gw ke sana adalah mencari sepatu murah, yang ternyata niat gw itu kandas begitu saja ketika melihat keramaian pada berbagai toko penjual baju dan sepatu yang murah-murah diserbu pengunjung. Maklum gw perginya Jumat malam, sudah terhitung weekend, jadi rame banget.
Saat itu gw juga penasaran dengan rasa kerak telor. Ternyata? Huh. Mengecewakan. I thought kerak telor was something extraordinary. Cobalah Anda makan kerak telor tanpa minum, dijamin umur anda langsung berkurang satu tahun. Rasanya pun standar.
Dan setelah menghabiskan hidangan itu (dengan agak terpaksa, sayang karena harganya mahal) gw tiba-tiba terpikir sesuatu, yang sepertinya terlewat dari perhatian Yudhi dan SH. “hey.. I didn’t see these guys (penjual kerak telor) brought any water with them… I wonder how they wash the spoons?” and YES, YOU’RE RIGHT. They just simply DON’T. (KOITSUUUUUUU…!!!) Sendok-sendok bekas makan itu hanya dilap dengan sebuah lap kering, (yang kebersihan lap-nya itu sendiri pun diragukan). Oh my… kalau orang yang makan sebelum gw itu cewek cakep & baek2 sih nggak apa-apa… tapi gimana kalau orang yang penyakitan? Kotor? Atau orang-orang jahat yang sengaja menebarkan bubuk anthrax di situ? Ugh. (Okelah kalo anthrax mungkin memang agak berlebihan; tapi segala sesuatu mungkin saja terjadi kan?). Jadi, saran gw untuk kalian yang penasaran dengan rasa kerak telor: DON’T BUY IT. YOU’LL REGRET IT IF YOU DO. Kalaupun somehow kalian suka dengan kerak telor, bring your own spoon, eat it like eating a hotdog (yes they have paper on the plate), or just eat it with your bare hand. It surely is more sanitary.
Oh ya, selama di sana juga gw ngga melihat satuan pengamanan dalam jumlah yang cukup; baik polisi maupun satpam. Lalu bagaimana seandainya terjadi pencopetan? Perampokan? Atau malah perkelahian antar personal atau kelompok? Bukan ga mungkin terjadi kan? Sepertinya pihak JIExpo “kelupaan” untuk hal yang satu ini ya… aneh, mengingat bahwa sebenarnya orang-orang dulu malas datang ke PRJ karena daerahnya yang sangat rawan terhadap kriminalitas.
Dateng lagi gak ya tahun depan… will it still be worthy enough? We’ll see.