Kemarin (tepatnya beberapa jam yang lalu) saya membaca posting Mr.YD di sini yang membahas mengenai JDorama, namun sempat membandingkannya dengan buah pena penulis-penulis Indonesia. Yang akhirnya menjadi trigger pemikiran saya yang telah lama terpendam: film horror Indonesia.
Horor, Misteri, dan Takhayul
Mengapa jenis film (baik layar kaca maupun layar lebar) yang beredar di Indonesia hanya itu-itu saja? Kalau bukan bertema horor/misteri/takhayul, paling konflik mertua-menantu, atau konflik remaja. Dan kali ini saya tekankan pada masalah takhayul. Hal ini sudah mendarah daging bagi masyarakat Indonesia… yang membuat banyak orang takut terhadap malam tertentu, tabu untuk melakukan sesuatu, sampai melakukan segala sesuatu dengan cara-cara tertentu supaya tidak diganggu oleh the-so-called makhluk halus. Saya tidak mengatakan makhluk halus itu tidak ada. Bisa saja ada, dan memang sangat mungkin ada, karena tidak semua yang tidak dapat kita lihat itu tidak ada. Tapi kemungkinan bagi makhluk tersebut dapat mengganggu manusia, apalagi manusia yang memiliki ‘pikiran kuat’, rasanya sulit sekali.
Sementara orang-orang Indonesia melakukan banyak hal untuk ‘menjauhkan diri’ dari gangguan makhluk halus, pada saat yang sama juga mereka malah berusaha mendekati makhluk halus tersebut, dengan menonton film-film bertemakan takhayul. Tidak percaya? Cobalah Anda browse ke sebuah situs primbon, yang konon mendapatkan Golden Web Award sebagai situs yang paling banyak dikunjungi pada tahun 2003-2004 walaupun ada beberapa opini yang sedikit berbeda mengenai Golden Web Award tersebut. Padahal, pada web tersebut sendiri berorientasi bisnis, dapat dilihat di sini (ini screenshotnya) ‘ghost detector’ yang ditulis seolah ada review dari USA Today dengan kesimpulan “This is not a game. This is a measuring device.” yang ternyata tidak sepenuhnya benar, karena pernyataan itu ternyata bukan ‘review’ dari team USA Today, melainkan quotation dari Yuichiro Saito, wakil presiden SolidAlliance (perusahaan pembuat Ghost Radar tsb). Lihat artikelnya di sini atau screenshotnya di sini. Tentu saja ini berarti USA Today tidak (belum) mengakui alat tersebut sebagai sebuah measuring device. Quotation yang ada di situ hanya merupakan kalimat advertising dari ‘orang dalam’ perusahaan tersebut.
Kembali ke masalah film horror. Mengapa film jenis ini sangat laku, bahkan sampai bioskop pun menayangkannya?
- Penasaran.
Rasa penasaran ini biasanya ditemui pada orang-orang yang memang percaya dan suka pada cerita-cerita takhayul. Orang-orang pengecut yang hanya berani menonton filmnya, padahal kalau ketemu makhluk halus-nya scr langsung ngibrit. Sampe di rumah baca-baca mantra yang dianggap bisa mengusir setan. Cape deh. - Tantangan.
Daripada dibilang pengecut sama teman, lebih baik ikut saja. Biasalah, sifat orang Indonesia. - Bokek.
Yah, biarpun bokek yang penting gaya, bisa nonton di bioskop kan kedengerannya keren, walaupun cari HTMnya yang paling murah. - Harapan.
Harapan di sini tentunya bukan adanya suatu makna yang dapat diambil dari film tersebut, tetapi lebih pada Kalau nonton film horror kan, nanti pacar gw jadi ketakutan, trus pegang tangan gw erat2 atau bahkan peluk gw. Ah, hati-hati Oom, jangan2 nanti Anda sendiri yang ketakutan sampai ngompol. Malah bikin malu. - Kemungkinan2 tak terduga.
Film-film seperti itu ditonton oleh mereka-mereka sendiri (dukun, ‘orang pintar’, atau bahkan hantu-hantu itu sendiri) sebagai bagian dari suatu organisasi besar yang berusaha untuk memasukkan lebih banyak film horror takhayul ke dalam perfilman nusantara, membuat penduduk negara ini menjadi semakin takut/percaya akan ‘kekuatan’ dukun yang pada akhirnya akan membawa keuntungan pada dukun itu sendiri karena OMZET-nya makin besar. (OK I know this sounds crazy, tapi mungkin saja kan, seperti ghost detector yang sudah saya contohkan di atas, ini semua ternyata bermotif ekonomi atau yang lainnya?)
Bahkan sampai ke layar lebar
Saya terkejut ketika beberapa waktu yang lalu pergi ke Djakarta XXI Theater (samping Menara Cakrawala) Thamrin, ternyata film yang diputar adalah “Pocong 3″, “Kuntilanak 2″. Ini adalah 2 film dari totalnya hanya 3 film yang diputar di bioskop itu pada hari tsb. I mean, it’s XXI, ya know? Not just an ‘ordinary’ 21.
Selain kedua film itu, masih ada “Terowongan Casablanca”, “Jelangkung 1-3″, “Legenda Sundel Bolong”, “Lawang Sewu (Dendam Kuntilanak)”, dsb yang pernah/sedang diputar di layar lebar di Indonesia). Inikah karya orisinil anak bangsa? Sejujurnya, menurut saya ini mengecewakan. Sangat tidak kreatif, seolah hanya berusaha membuat cerita-cerita yang telah ada sebelumnya (turun-temurun) atau berusaha menjiplak kesuksesan film-film Thailand yang memang terkenal dengan genre horror-nya.
Mengapa film-film seperti ini masih tetap diproduksi? Selain karena dianggap laris manis dan mudah membuat ceritanya (hanya perlu nge-bullshit tanpa perlu memperhitungkan rasionalitas), sepertinya film ini dipilih oleh banyak production house karena biaya produksinya yang jauh lebih murah dibandingkan film action (film horror kan hanya butuh beberapa rumah tua yang agak reyot, bayar sewa hutan/kuburan, dan beberapa pemain-yang-tidak-perlu-cakep-cakep-amat-alias-bayarannya-murah-toh-ujung-ujungnya-di-makeup-habis-habisan-juga?).
Kesimpulan (kalo Anda menganggap kesimpulannya ngaco, jangan protes yah!
)
Jika saja kuntilanak, pocong, jelangkung, dan yang sejenisnya itu adalah artis, pasti mereka itulah makhluk-makhluk terkaya di Indonesia.
As for me, saya suka dengan cerita/film horror. Tapi bukan takhayul. Seperti? The Saw. Hostel. Dsb.
December 3, 2007 at 8:15 am
Menurut hemat saya sebagai pengamat yang cukup agak ngaur dan ekstreem dalam memberikan review.. biasanya ketika manusia tertekan dia mau lari . tapi bingung lari kemana. dia cari sesuatu yang memang luar biasa dan ekstreem seperti film film itu.. jika demikan saat ini cukup banyak orang stress dan agak aneh di indonesia kita ini..
Pencarian akan Tuhan harus memalalui pencarian terhadap Hantu (tinggal dibalik) sepertinya ini memang suatu fenomena..
tau ah.. suka suka orang mau nonton egp mungkin harus diadakan penelitian independent terhadap pengaruh fil tersebut.. pasti ada dampaknya….
March 24, 2008 at 11:38 pm
Syallom… jawaban.com will be held 1st Christian Indonesian Blogger Festival on 8 August 2008 (8-8-8)…Cek ‘Pengumuman Event’ forum JC tuk join CIBfest 2008 disini : http://www.jawaban.com/forum/viewtopic.php?p=161332#161332. Atau langsung join aja disini : http://www.jawaban.com/news/entertain/show.menu.php?cat_id=175. Dan ikuti instruksi di sidebar sebelah kanan. We’re waiting for you all of Christian bloggers to join !
March 25, 2008 at 12:10 pm
@yudhi:
Mungkin memang benar. Tapi yang patut dikuatirkan adalah, jangan-jangan dengan banyaknya film-film seperti itu justru malah membuat orang lebih percaya pada kekuatan gelap atau black magic, akhirnya lebih memilih ke dukun (pasang susuk, pelet, santet, dsb) daripada ke tempat ibadah. WASPADALAH!! WASPADALAH!!
@Lestari:
Lho kok numpang iklan di sini? Tapi kalau dihapus nggak tega juga (secara, ini bukan spam yang jualan V14GR4 gitu). Tapi yang jelas saya tidak akan ikut serta dalam event itu karena:
- Siapa bilang saya Christian?
- Sejauh ini postingan saya adalah postingan yang bersifat umum, atau menyinggung masalah agama dengan pandangan se-objektif mungkin.
- Semua entri dalam blog ini adalah ‘wangsit’ dari septic tank hasil pertapaan saya di WC, jadi mungkin kurang memadai untuk event-event seperti itu…
- Kalau Anda perhatikan baik-baik blog ini, bahasanya bukan bahasa Indonesia, melainkan campur-campur… kadang Indonesia, kadang Inggris… some people call it inconsistent, but well I prefer it that way… just to satisfy both who don’t understand English and those who don’t understand Bahasa.
July 30, 2008 at 12:35 pm
fgrsy5