Firefox Download Day 2008

Hari ini adalah “Firefox Download Day 2008″. Apa yang terjadi? Berikut kisah saya…

Menurut timeanddate.com, Firefox Download Day 2008 dimulai pada hari Rabu, 18 Juni 2008 tepat tengah malam waktu Jakarta (GMT+07.00). Hari Selasa malam kemarin (17 Juni 2008) saya begitu keasyikan chatting bersama seorang teman, tanpa menyadari bahwa hari telah berganti. Begitu pembicaraan selesai, saya kemudian teringat kembali mengenai Download Day ini, dan mencoba membuka situs browser kebanggaan Mozilla tersebut. Namun apa yang terjadi? Yap, sesuai dengan yang sudah diprediksi, situs ini menjadi sangat lambat untuk diakses. Hahaha.

Pertama saya mencoba membuka
http://firefox.com/
ternyata saya di-redirect ke
http://www.mozilla.com/en-US/outages.html
yang isinya hanya:
Http/1.1 Service Unavailable
Wah kok unavailable?

Kemudian saya mencoba membuka halamannya langsung tanpa melalui firefox.com yaitu
http://www.mozilla.com/en-US/firefox/
yang terlihat hanya tulisan:
<<<<<<< .mine =======
dengan highlight berwarna biru.
Tampilannya begini doang nih...?

Saya mencoba untuk memastikan bahwa kesalahan bukan berada pada komputer/koneksi Internet yang saya gunakan, sehingga saya mencoba untuk membuka beberapa situs lain, dan hasilnya adalah semua situs tersebut dapat dibuka dengan cepat dan sempurna (tanpa ada error). Situs-situs tersebut yaitu:
Link international saya nggak mati!
Link international saya nggak mati!
Link international saya nggak mati!
Link international saya nggak mati!
Dengan pengecualian, image pada bagian kanan atas blog saya sendiri, yang notabene diambil langsung dari spreadfirefox.com, yang ternyata tidak bisa loading hingga selesai.

Menurut saya, Mozilla telah berusaha memecahkan rekor pada Guiness Book of World Record tanpa persiapan yang matang pada servernya. Akhirnya setelah ditunggu beberapa menit, halaman utama ‘Firefox baru’ terlihat juga, walaupun tetap dengan sedikit error berupa tulisan “<<<<<<< .mine ======= >>>>>>> .r15918″ pada headernya.
Sedikit error pada header

Yah, setidaknya sudah ada tampilan, walaupun dengan error yang minor. Saya pun segera meng-klik button “Free Download”.
Nunggu open/save dialog box lama banget, padahal title-nya udah berubah tuh

Karena loading saat membuka halaman pada screenshot di atas (lagi-lagi karena servernya lemot) sangat lama, saya mencoba membuka kembali situs pada tab pertama tadi yaitu firefox.com, namun hasilnya masih tetap sama:
Http/1.1 Service Unavailable
Service Unavailable

Lalu, akhirnya muncul juga dialog box untuk pilihan save dari tab kedua tadi.
Firefox 2.0.0.14 open/save dialog box

Namun saya kaget karena yang saya download ternyata adalah Firefox 2.0.0.14 (lihat screenshot di atas), yang kalau diperhatikan lagi, ternyata memang itu yang tertulis pada button “Free Download” tersebut. Apa maksudnya ini? Apakah ini berarti Mozilla sebenarnya belum siap untuk me-release Firefox 3? Dapatkah ini dikategorikan sebagai penipuan?

Download sudah berjalan, namun kecepatannya tidak memuaskan. Dapat dilihat pada screenshot berikut, download hanya berjalan pada kecepatan sekitar 24 KBps.
Firefox 2.0.0.14 download speed

Sekitar pukul 1.53 AM, download Firefox 2.0.0.14 ini akhirnya selesai.
Firefox 2.0.0.14 download finished

Karena saya penasaran mengenai versi Firefox ini, saya melihat file info yang ada pada caption (atau file – properties), ternyata tulisannya malah versi 4.42.0.0 seperti terlihat di bawah ini.
Firefox 2.0.0.14 installer info

Sekedar info saja, saya telah menggunakan Firefox 3 sejak-entah-kapan (mungkin beberapa hari yang lalu), karena sejak awal saya sudah menggunakan auto-update untuk Firefox 3 beta yang telah saya gunakan cukup lama. Saya men-download Firefox ini hanya karena sudah ‘terlanjur’ janji (pledge) pada spreadfirefox.com beberapa hari yang lalu. Dengan kata lain, tanpa adanya pledge itu saya tentunya tidak akan men-download installer yang ternyata hanya Firefox versi 2.0.0.14 ini (Untuk apa? Toh jika saya meng-install package yang baru saja saya download ini, maka yang terjadi adalah downgrade. Hell no! Gak penting banget!). Apalagi sejak siang saya sudah dibuat kesal dengan tidak adanya informasi mengenai “24 jam” atau “1 hari” yang dimaksud pada hari Selasa, 17 Juni 2008. Sebelumnya saya berasumsi 24 jam yang digunakan adalah mulai dari 00:00:00 sampai 23:59:59 hari Selasa tersebut, menurut waktu GMT. Ternyata 1 hari yang dimaksud dimulai dari “Tuesday, June 17, 2008 at 10:00 AM San Francisco time”. WTF??? Berarti download day Firefox itu menjadi 2 hari, yaitu tanggal 17 DAN 18 Juni 2008, karena sekalipun menggunakan standar waktu Amerika, download day ini akan berakhir pada tanggal 18 Juni 2008 pukul 09:59:59 AM waktu setempat. Dengan kata lain, seharusnya tidak dinamakan “Firefox Download Day 2008″ melainkan “Firefox Download DAYS 2008″. Pertanyaannya, mengapa mereka menggunakan waktu Amerika? Ya, jelas sekali bahwa ini adalah cerminan dari arogansi Amerika, yang menganggap bahwa mereka adalah pusat dari dunia, tanpa memandang orang lain. Berkat kekecewaan ini, maka semalam adalah untuk terakhir kalinya saya ‘membantu’ Firefox untuk memecahkan rekor. Next time I won’t give a d*mn about Mozilla trying to break the world record.

Sebagian dari paragraf di atas sudah saya ketik sejak semalam, sambil menunggu website-nya yang sangat lemot itu. Saat itu, setelah saya selesai mengetik paragraf di atas dan bingung mau mencaci maki Mozilla seperti apa lagi, saya iseng-iseng me-refresh halaman http://www.mozilla.com/en-US/firefox/ dan tebak apa yang terjadi? TADA!!! Loading jalaman situs sudah lumayan cepat, dan button pada halaman tersebut sudah berubah menjadi “3.0 for Windows”.
Kok baru berubah jadi versi 3?

Kecerobohan yang sangat besar dari pihak Mozilla, ternyata mereka hanya ingat untuk mengubah tampilan situs, tanpa mengubah isi download-nya, saking nafsu dan berkonsentrasi pada World Record. What more can I say? They are so full of themselves that they forgot to do the most important thing.

Akhirnya saya memutuskan untuk tetap men-download versi 3 ini juga, sekali lagi karena sudah terlanjur janji, jangan-jangan download yang sebelumnya tidak dihitung karena versinya berbeda.
Firefox 3 open/save dialog box

Dan, download speed juga sudah meningkat jauh. Pada screenshot terlihat bahwa download speed saat itu adalah sekitar 47 KBps. Bandwidth limit untuk koneksi Internet yang saya gunakan sekitar 50 KBps, jadi saya tidak tahu pasti apakah 47 KBps ini sudah kemampuan maksimum server Mozilla, atau dikarenakan oleh limit dari koneksi saya sendiri.
Firefox 3 download speed

File installer yang saya download ini benar-benar berbeda dengan sebelumnya (Firefox 2.0.0.14) karena ukurannya saja sudah berbeda jauh (installer Firefox 2.0.0.14 berukuran 5.75 MB sedangkan installer Firefox 3 berukuran 7.14 MB).
Firefox 3 installer info

Info tambahan, walaupun pihak Mozilla mengatakan telah memperbaiki sistem manajemen memori pada Firefox 3, namun kenyataannya Firefox 3 tetap boros memori, terutama untuk tabbed browsing yang sangat banyak, contohnya yang saya capture malam tadi (saya sangat menggemari tabbed browsing, bisa membuka puluhan tab dalam satu window):
Firefox 3 Memory Usage
Firefox 3 menggunakan memori hingga lebih dari 250MB. Pada saat itu saya sedang membuka kurang lebih 30 tab dengan kebanyakan situs yang dibuka adalah Flickr, Spread Firefox, dan Kaskus.

Fitur yang ditambahkan pada Firefox 3 yang paling saya sukai adalah kemampuan untuk ngubek-ngubek history dan bookmark saat kita mengetikkan kata apapun pada location bar, dengan kata lain jika saya pernah membuka halaman http://www.binus.ac.id/ dan saya lupa link-nya, saya tidak perlu lagi mencari-cari di history, karena cukup dengan mengetikkan title yang ada pada situs itu, baik itu “BINUS”, “UNIVERSITY”, maupun kedua-duanya maka history itu akan muncul otomatis di bawah location bar. Hal yang sama juga terjadi jika Anda telah mem-bookmark suatu website. Fitur inilah yang paling membuat saya betah menggunakan Firefox 3.

Blood Donation, Saving Lives

Osu. As usual, I let this blog abandoned for months. I was the one who call for YD to start blogging, yet now he’s more active than I do. Despise me. Ugh.

On March 3, 2008 I participated in a blood donation, conducted by HIMSISFO (Himpunan Mahasiswa Sistem Informasi / Student Association of Information System), though I didn’t have any class that day (Yes it was a tough decision for me… I usually DON’T come to campus when I have no class).

Why do I donate?
Well, to tell you the truth, I’m not really sure. But I think there are two main reasons:

  • I expect to lower the concentration of my own blood, because in the previous donation I’ve seen it myself, that I have a very thick blood (FYI, thick blood increase the risk of stroke).
  • I might be able to save someone from… death. And I really really hope that it is a good person. Someone who are not self-centered. Someone who will be able to change the world for the better. I know it sounds cliché, or even unreasonable, but that’s what I really hoped for. If I can choose the very one person I may save by donating my blood, I’d pick someone who is smart, diligent, hard-worker, self-motivated, etc etc etc… because the world needs people like them. They can make this world a better place.

    Yes, I know that such people is rare and very hard to find. And you ask me, “Then why bother? Your blood would probably transfused to ‘the wrong people”. Yes, I am aware of that. But let me tell you something: if I have to save a hundred bad guys to save one good guy, I’d do it. Then I can think of how to eliminate that one hundred bad guys, with my own way. (Oh yes, I’m a freak, but I am me. You are not allowed to falsify my thoughts).

  • There are more advantages for you if you donate your blood. Just google it, and you’ll find quite a bunch (yes, google is a verb. Click here).

Back to the main topic, about blood donation.

A minimum weight for a blood donator is 45 kgs (110 lbs). Though it’s medically possible, but I don’t suggest someone below 60 kgs to donate blood. When they themselves is thin enough to be blown away when the wind blows, I really don’t think they should donate their blood (I’m being serious here).

I asked some friends of mine, if they have ever donate their blood before. From almost 20 friend I asked via YM, only three answered “Yes, I have”, mostly answers “No, I haven’t” and the rest IGNORES me. Hopefully these three guys who answered “Yes” are honest.

Whilst the “Yes”-guys have their few reason:

  • “I want to get those blood out of me, to have a ‘new blood’ regenerated inside my body” (read: I want to be healthy).
  • “Just tryin’ (I wanna know how it feels).”
  • and one refused to say his reason.

the “No”-guys have various reasons:

  • “I’m too skinny…”
  • “I drive. I’m afraid I’ll feel dizzy when I drive home.”
  • “I’m having diarrhea…”
  • “I’m afraid of needle.”
  • and the most popular answer “I just don’t feel like (donating) it” or refused to state their reason.

and so I ask another question to the “No”-guys:
Q: “Do you plan on donating blood in the future?”
A1: “No, I don’t and I won’t”
A2: “I will donate one day”
A3: “I will donate when I’m not ill”

after I ask that question, most of the “No”-guys feel irritated, so I stopped asking questions.

Unknown to most people, there are also negative effects on blood donation. That is, if you donate blood too often (let’s say, once every 3 months). When you stop donating blood, you’ll feel dizzy, or even sick. Here are some references:
Link 1
Link 2
Link 3
Link 4
(its original page is already deleted; that’s why I can only link to the cached page).

Though it may not be publicly disclosed and only described in a sentence or two (the article itself mainly discusses about blood donation in general), but it’s there. And I have a friend whose father is ‘addicted’ to blood donation, too. I don’t know if this kind of addiction actually exist, or just some ‘mindset’ or so… But just in case, if you want to donate blood, it’s probably better to be done once a year, or twice a year at most. Some parts of the world is short on blood supply, sore wa yoku wakatteiru. I know it very well. But I think it’s now the responsibility of the ones who actually capable of being a donator but chose not to donate.

P.S. Will I be contacted by a Red Cross organization coz I posted the negative effect on blood donation? We’ll see.. :P

Layar Lebar Film Horror – Misteri

Kemarin (tepatnya beberapa jam yang lalu) saya membaca posting Mr.YD di sini yang membahas mengenai JDorama, namun sempat membandingkannya dengan buah pena penulis-penulis Indonesia. Yang akhirnya menjadi trigger pemikiran saya yang telah lama terpendam: film horror Indonesia.

Horor, Misteri, dan Takhayul

Mengapa jenis film (baik layar kaca maupun layar lebar) yang beredar di Indonesia hanya itu-itu saja? Kalau bukan bertema horor/misteri/takhayul, paling konflik mertua-menantu, atau konflik remaja. Dan kali ini saya tekankan pada masalah takhayul. Hal ini sudah mendarah daging bagi masyarakat Indonesia… yang membuat banyak orang takut terhadap malam tertentu, tabu untuk melakukan sesuatu, sampai melakukan segala sesuatu dengan cara-cara tertentu supaya tidak diganggu oleh the-so-called makhluk halus. Saya tidak mengatakan makhluk halus itu tidak ada. Bisa saja ada, dan memang sangat mungkin ada, karena tidak semua yang tidak dapat kita lihat itu tidak ada. Tapi kemungkinan bagi makhluk tersebut dapat mengganggu manusia, apalagi manusia yang memiliki ‘pikiran kuat’, rasanya sulit sekali.

Sementara orang-orang Indonesia melakukan banyak hal untuk ‘menjauhkan diri’ dari gangguan makhluk halus, pada saat yang sama juga mereka malah berusaha mendekati makhluk halus tersebut, dengan menonton film-film bertemakan takhayul. Tidak percaya? Cobalah Anda browse ke sebuah situs primbon, yang konon mendapatkan Golden Web Award sebagai situs yang paling banyak dikunjungi pada tahun 2003-2004 walaupun ada beberapa opini yang sedikit berbeda mengenai Golden Web Award tersebut. Padahal, pada web tersebut sendiri berorientasi bisnis, dapat dilihat di sini (ini screenshotnya) ‘ghost detector’ yang ditulis seolah ada review dari USA Today dengan kesimpulan “This is not a game. This is a measuring device.” yang ternyata tidak sepenuhnya benar, karena pernyataan itu ternyata bukan ‘review’ dari team USA Today, melainkan quotation dari Yuichiro Saito, wakil presiden SolidAlliance (perusahaan pembuat Ghost Radar tsb). Lihat artikelnya di sini atau screenshotnya di sini. Tentu saja ini berarti USA Today tidak (belum) mengakui alat tersebut sebagai sebuah measuring device. Quotation yang ada di situ hanya merupakan kalimat advertising dari ‘orang dalam’ perusahaan tersebut.

Kembali ke masalah film horror. Mengapa film jenis ini sangat laku, bahkan sampai bioskop pun menayangkannya?

  1. Penasaran.
    Rasa penasaran ini biasanya ditemui pada orang-orang yang memang percaya dan suka pada cerita-cerita takhayul. Orang-orang pengecut yang hanya berani menonton filmnya, padahal kalau ketemu makhluk halus-nya scr langsung ngibrit. Sampe di rumah baca-baca mantra yang dianggap bisa mengusir setan. Cape deh.
  2. Tantangan.
    Daripada dibilang pengecut sama teman, lebih baik ikut saja. Biasalah, sifat orang Indonesia.
  3. Bokek.
    Yah, biarpun bokek yang penting gaya, bisa nonton di bioskop kan kedengerannya keren, walaupun cari HTMnya yang paling murah.
  4. Harapan.
    Harapan di sini tentunya bukan adanya suatu makna yang dapat diambil dari film tersebut, tetapi lebih pada Kalau nonton film horror kan, nanti pacar gw jadi ketakutan, trus pegang tangan gw erat2 atau bahkan peluk gw. Ah, hati-hati Oom, jangan2 nanti Anda sendiri yang ketakutan sampai ngompol. Malah bikin malu.
  5. Kemungkinan2 tak terduga.
    Film-film seperti itu ditonton oleh mereka-mereka sendiri (dukun, ‘orang pintar’, atau bahkan hantu-hantu itu sendiri) sebagai bagian dari suatu organisasi besar yang berusaha untuk memasukkan lebih banyak film horror takhayul ke dalam perfilman nusantara, membuat penduduk negara ini menjadi semakin takut/percaya akan ‘kekuatan’ dukun yang pada akhirnya akan membawa keuntungan pada dukun itu sendiri karena OMZET-nya makin besar. (OK I know this sounds crazy, tapi mungkin saja kan, seperti ghost detector yang sudah saya contohkan di atas, ini semua ternyata bermotif ekonomi atau yang lainnya?)

Bahkan sampai ke layar lebar

Saya terkejut ketika beberapa waktu yang lalu pergi ke Djakarta XXI Theater (samping Menara Cakrawala) Thamrin, ternyata film yang diputar adalah “Pocong 3″, “Kuntilanak 2″. Ini adalah 2 film dari totalnya hanya 3 film yang diputar di bioskop itu pada hari tsb. I mean, it’s XXI, ya know? Not just an ‘ordinary’ 21.

Selain kedua film itu, masih ada “Terowongan Casablanca”, “Jelangkung 1-3″, “Legenda Sundel Bolong”, “Lawang Sewu (Dendam Kuntilanak)”, dsb yang pernah/sedang diputar di layar lebar di Indonesia). Inikah karya orisinil anak bangsa? Sejujurnya, menurut saya ini mengecewakan. Sangat tidak kreatif, seolah hanya berusaha membuat cerita-cerita yang telah ada sebelumnya (turun-temurun) atau berusaha menjiplak kesuksesan film-film Thailand yang memang terkenal dengan genre horror-nya.

Mengapa film-film seperti ini masih tetap diproduksi? Selain karena dianggap laris manis dan mudah membuat ceritanya (hanya perlu nge-bullshit tanpa perlu memperhitungkan rasionalitas), sepertinya film ini dipilih oleh banyak production house karena biaya produksinya yang jauh lebih murah dibandingkan film action (film horror kan hanya butuh beberapa rumah tua yang agak reyot, bayar sewa hutan/kuburan, dan beberapa pemain-yang-tidak-perlu-cakep-cakep-amat-alias-bayarannya-murah-toh-ujung-ujungnya-di-makeup-habis-habisan-juga?).

Kesimpulan (kalo Anda menganggap kesimpulannya ngaco, jangan protes yah! :P )

Jika saja kuntilanak, pocong, jelangkung, dan yang sejenisnya itu adalah artis, pasti mereka itulah makhluk-makhluk terkaya di Indonesia.

As for me, saya suka dengan cerita/film horror. Tapi bukan takhayul. Seperti? The Saw. Hostel. Dsb.