Kesempurnaan Sebuah Mesin

It is riddled with holes, yet contains 15 gallons of water and a pint of hydrochloric acid.
It has more protein than 70 pounds of peanuts.
It has enough carbon to fill a thousand pencils, and enough phosphorous for 3,000 match heads.
What sounds like a collection of chemicals in a leaky bag is the most complex structure on our planet… the human body.

Itulah paragraf pembuka pada sebuah program di Discovery Channel, yang berjudul “Understanding The Human Body”. Satu paragraf itu saja sudah sangat menggugah rasa keingintahuan, seolah tubuh manusia adalah sesuatu yang mengagumkan. Dan semakin kita tahu mengenai tubuh manusia, maka kita akan semakin menyadari, it really is amazing.

  • Manusia dapat mengeluarkan air (keringat) dari dalam tubuh, namun pada saat yang sama dapat mencegah air dari luar untuk masuk ke tubuh maupun sebaliknya.
  • Manusia memiliki consciousness, “kesadaran”, meskipun pada kenyataannya manusia hanya terbuat dari rangkaian sel-sel.
  • Rangka manusia memiliki struktur honeycomb (heksagonal seperti sarang lebah, tidak solid), yang membuatnya kokoh sekaligus ringan. Bandingkan jika kita membuat robot dengan fitur-fitur seperti manusia, maka akan jauh lebih berat karena rangka terbuat dari besi solid.
  • Manusia mampu melakukan “self-repair” hingga tingkat tertentu, yang berlangsung di luar kesadaran manusia itu sendiri.
  • Manusia memiliki kode genetiknya sendiri yang terdiri atas rangkaian dari 4 jenis protein/nukleotida: Adenine, Thymine, Cytosine, dan Guanine. Protein-protein ini terangkai dalam bentuk double helix yang selalu berpasangan: Adenine dengan Thymine, Cytosine dengan Guanine. Struktur double helix inilah yang kemudian disebut dengan DNA (DeoxyriboNucleic Acid). Jika ada satu saja kesalahan pengkopian dalam rangkaian ATCG ini dapat memiliki pengaruh yang sangat besar pada manusia itu. Dengan kata lain, jika dibandingkan dengan ZIP atau RAR, maka tingkat kompresi kode genetik ini sangat tinggi. Saya pikir, kode genetik seperti ini sangat penting, sehingga seharusnya ada checksum supaya bisa dideteksi kalau terjadi error. MD5 checksum mungkin?
  • dsb dsb dsb

Jika kita membandingkan tubuh manusia dengan mesin, maka tubuh manusia merupakan mesin yang fully-automatic. Manusia tidak pernah mengatur kapan dan ke mana sel-sel darah harus bergerak, dari mana dan bagaimana zat-zat yang dibutuhkan oleh sel harus diantarkan, kapan dan bagaimana tulang harus tumbuh, kapan jantung harus berdetak. Hal ini juga berlaku untuk berbagai organ tubuh lainnya, seperti hati, usus, semuanya sudah bekerja secara otomatis. Dan walaupun mesin memiliki banyak kelebihan dibandingkan manusia, namun manusia memiliki jauh lebih banyak kelebihannya tersendiri dibandingkan mesin. Bahkan, sadar atau tidak, manusia memiliki harga yang sangat mahal bila dibandingkan mesin. Bandingkan harga sebuah mobil baru, dengan tubuh manusia yang sudah mati (menurut BBC, “How Much Is Your Dead Body Worth”, satu tubuh manusia yang mati memiliki nilai setidaknya $250,000). Bayangkan, betapa mahalnya ‘mesin’ yang sudah ‘rusak’ itu. Apalagi yang belum rusak. Jadi kalau Anda merasa putus asa, daripada bunuh diri mungkin lebih baik Anda menyerahkan diri ke kedokteran atau pemakaman, untuk diambil mata, jantung, tulang, jaringan-jaringannya, dan lain-lain. Uangnya dapat Anda berikan ke anggota keluarga atau ke yayasan-yayasan sosial. (Oh ya, ini adalah sinisme. In real world, you can’t legally do that).

Memang, sebagai mesin pun, manusia tidaklah sempurna, karena tetap memiliki masa wear out-nya tersendiri. Namun di dunia ini, manusia-lah ‘mesin’ yang paling rumit, dan paling mendekati kesempurnaan. Saking rumitnya, bahkan manusia itu sendiri belum sepenuhnya mengerti bagaimana tubuh manusia bekerja. Dan walaupun tubuh manusia ini sangat rumit, namun pembuatannya sangat mudah. Rata-rata manusia dewasa, berapapun nilai IQ maupun EQ-nya, mampu ‘membuat’ manusia dengan mudah. Saking mudahnya, sampai banyak sekali manusia yang membuatnya tanpa pikir panjang dan tidak tahu bagaimana memberi ‘bahan bakar’ pada manusia buatannya itu. Dan jika saya teruskan, maka tulisan saya akan semakin ngelantur dan keluar dari target tujuan penyampaian karena sudah menjadi topik bahasan yang berbeda. Karena itu, mungkin cukup sampai di sini dulu.

Anda tidak mengerti apa yang saya bicarakan dalam postingan kali ini? Jika jawabannya “ya”, tontonlah film-film dokumenter yang menceritakan mengenai tubuh manusia secara biologis, dan Anda akan mengerti apa yang saya maksud.

Blood Donation, Saving Lives

Osu. As usual, I let this blog abandoned for months. I was the one who call for YD to start blogging, yet now he’s more active than I do. Despise me. Ugh.

On March 3, 2008 I participated in a blood donation, conducted by HIMSISFO (Himpunan Mahasiswa Sistem Informasi / Student Association of Information System), though I didn’t have any class that day (Yes it was a tough decision for me… I usually DON’T come to campus when I have no class).

Why do I donate?
Well, to tell you the truth, I’m not really sure. But I think there are two main reasons:

  • I expect to lower the concentration of my own blood, because in the previous donation I’ve seen it myself, that I have a very thick blood (FYI, thick blood increase the risk of stroke).
  • I might be able to save someone from… death. And I really really hope that it is a good person. Someone who are not self-centered. Someone who will be able to change the world for the better. I know it sounds cliché, or even unreasonable, but that’s what I really hoped for. If I can choose the very one person I may save by donating my blood, I’d pick someone who is smart, diligent, hard-worker, self-motivated, etc etc etc… because the world needs people like them. They can make this world a better place.

    Yes, I know that such people is rare and very hard to find. And you ask me, “Then why bother? Your blood would probably transfused to ‘the wrong people”. Yes, I am aware of that. But let me tell you something: if I have to save a hundred bad guys to save one good guy, I’d do it. Then I can think of how to eliminate that one hundred bad guys, with my own way. (Oh yes, I’m a freak, but I am me. You are not allowed to falsify my thoughts).

  • There are more advantages for you if you donate your blood. Just google it, and you’ll find quite a bunch (yes, google is a verb. Click here).

Back to the main topic, about blood donation.

A minimum weight for a blood donator is 45 kgs (110 lbs). Though it’s medically possible, but I don’t suggest someone below 60 kgs to donate blood. When they themselves is thin enough to be blown away when the wind blows, I really don’t think they should donate their blood (I’m being serious here).

I asked some friends of mine, if they have ever donate their blood before. From almost 20 friend I asked via YM, only three answered “Yes, I have”, mostly answers “No, I haven’t” and the rest IGNORES me. Hopefully these three guys who answered “Yes” are honest.

Whilst the “Yes”-guys have their few reason:

  • “I want to get those blood out of me, to have a ‘new blood’ regenerated inside my body” (read: I want to be healthy).
  • “Just tryin’ (I wanna know how it feels).”
  • and one refused to say his reason.

the “No”-guys have various reasons:

  • “I’m too skinny…”
  • “I drive. I’m afraid I’ll feel dizzy when I drive home.”
  • “I’m having diarrhea…”
  • “I’m afraid of needle.”
  • and the most popular answer “I just don’t feel like (donating) it” or refused to state their reason.

and so I ask another question to the “No”-guys:
Q: “Do you plan on donating blood in the future?”
A1: “No, I don’t and I won’t”
A2: “I will donate one day”
A3: “I will donate when I’m not ill”

after I ask that question, most of the “No”-guys feel irritated, so I stopped asking questions.

Unknown to most people, there are also negative effects on blood donation. That is, if you donate blood too often (let’s say, once every 3 months). When you stop donating blood, you’ll feel dizzy, or even sick. Here are some references:
Link 1
Link 2
Link 3
Link 4
(its original page is already deleted; that’s why I can only link to the cached page).

Though it may not be publicly disclosed and only described in a sentence or two (the article itself mainly discusses about blood donation in general), but it’s there. And I have a friend whose father is ‘addicted’ to blood donation, too. I don’t know if this kind of addiction actually exist, or just some ‘mindset’ or so… But just in case, if you want to donate blood, it’s probably better to be done once a year, or twice a year at most. Some parts of the world is short on blood supply, sore wa yoku wakatteiru. I know it very well. But I think it’s now the responsibility of the ones who actually capable of being a donator but chose not to donate.

P.S. Will I be contacted by a Red Cross organization coz I posted the negative effect on blood donation? We’ll see.. :P

Layar Lebar Film Horror – Misteri

Kemarin (tepatnya beberapa jam yang lalu) saya membaca posting Mr.YD di sini yang membahas mengenai JDorama, namun sempat membandingkannya dengan buah pena penulis-penulis Indonesia. Yang akhirnya menjadi trigger pemikiran saya yang telah lama terpendam: film horror Indonesia.

Horor, Misteri, dan Takhayul

Mengapa jenis film (baik layar kaca maupun layar lebar) yang beredar di Indonesia hanya itu-itu saja? Kalau bukan bertema horor/misteri/takhayul, paling konflik mertua-menantu, atau konflik remaja. Dan kali ini saya tekankan pada masalah takhayul. Hal ini sudah mendarah daging bagi masyarakat Indonesia… yang membuat banyak orang takut terhadap malam tertentu, tabu untuk melakukan sesuatu, sampai melakukan segala sesuatu dengan cara-cara tertentu supaya tidak diganggu oleh the-so-called makhluk halus. Saya tidak mengatakan makhluk halus itu tidak ada. Bisa saja ada, dan memang sangat mungkin ada, karena tidak semua yang tidak dapat kita lihat itu tidak ada. Tapi kemungkinan bagi makhluk tersebut dapat mengganggu manusia, apalagi manusia yang memiliki ‘pikiran kuat’, rasanya sulit sekali.

Sementara orang-orang Indonesia melakukan banyak hal untuk ‘menjauhkan diri’ dari gangguan makhluk halus, pada saat yang sama juga mereka malah berusaha mendekati makhluk halus tersebut, dengan menonton film-film bertemakan takhayul. Tidak percaya? Cobalah Anda browse ke sebuah situs primbon, yang konon mendapatkan Golden Web Award sebagai situs yang paling banyak dikunjungi pada tahun 2003-2004 walaupun ada beberapa opini yang sedikit berbeda mengenai Golden Web Award tersebut. Padahal, pada web tersebut sendiri berorientasi bisnis, dapat dilihat di sini (ini screenshotnya) ‘ghost detector’ yang ditulis seolah ada review dari USA Today dengan kesimpulan “This is not a game. This is a measuring device.” yang ternyata tidak sepenuhnya benar, karena pernyataan itu ternyata bukan ‘review’ dari team USA Today, melainkan quotation dari Yuichiro Saito, wakil presiden SolidAlliance (perusahaan pembuat Ghost Radar tsb). Lihat artikelnya di sini atau screenshotnya di sini. Tentu saja ini berarti USA Today tidak (belum) mengakui alat tersebut sebagai sebuah measuring device. Quotation yang ada di situ hanya merupakan kalimat advertising dari ‘orang dalam’ perusahaan tersebut.

Kembali ke masalah film horror. Mengapa film jenis ini sangat laku, bahkan sampai bioskop pun menayangkannya?

  1. Penasaran.
    Rasa penasaran ini biasanya ditemui pada orang-orang yang memang percaya dan suka pada cerita-cerita takhayul. Orang-orang pengecut yang hanya berani menonton filmnya, padahal kalau ketemu makhluk halus-nya scr langsung ngibrit. Sampe di rumah baca-baca mantra yang dianggap bisa mengusir setan. Cape deh.
  2. Tantangan.
    Daripada dibilang pengecut sama teman, lebih baik ikut saja. Biasalah, sifat orang Indonesia.
  3. Bokek.
    Yah, biarpun bokek yang penting gaya, bisa nonton di bioskop kan kedengerannya keren, walaupun cari HTMnya yang paling murah.
  4. Harapan.
    Harapan di sini tentunya bukan adanya suatu makna yang dapat diambil dari film tersebut, tetapi lebih pada Kalau nonton film horror kan, nanti pacar gw jadi ketakutan, trus pegang tangan gw erat2 atau bahkan peluk gw. Ah, hati-hati Oom, jangan2 nanti Anda sendiri yang ketakutan sampai ngompol. Malah bikin malu.
  5. Kemungkinan2 tak terduga.
    Film-film seperti itu ditonton oleh mereka-mereka sendiri (dukun, ‘orang pintar’, atau bahkan hantu-hantu itu sendiri) sebagai bagian dari suatu organisasi besar yang berusaha untuk memasukkan lebih banyak film horror takhayul ke dalam perfilman nusantara, membuat penduduk negara ini menjadi semakin takut/percaya akan ‘kekuatan’ dukun yang pada akhirnya akan membawa keuntungan pada dukun itu sendiri karena OMZET-nya makin besar. (OK I know this sounds crazy, tapi mungkin saja kan, seperti ghost detector yang sudah saya contohkan di atas, ini semua ternyata bermotif ekonomi atau yang lainnya?)

Bahkan sampai ke layar lebar

Saya terkejut ketika beberapa waktu yang lalu pergi ke Djakarta XXI Theater (samping Menara Cakrawala) Thamrin, ternyata film yang diputar adalah “Pocong 3″, “Kuntilanak 2″. Ini adalah 2 film dari totalnya hanya 3 film yang diputar di bioskop itu pada hari tsb. I mean, it’s XXI, ya know? Not just an ‘ordinary’ 21.

Selain kedua film itu, masih ada “Terowongan Casablanca”, “Jelangkung 1-3″, “Legenda Sundel Bolong”, “Lawang Sewu (Dendam Kuntilanak)”, dsb yang pernah/sedang diputar di layar lebar di Indonesia). Inikah karya orisinil anak bangsa? Sejujurnya, menurut saya ini mengecewakan. Sangat tidak kreatif, seolah hanya berusaha membuat cerita-cerita yang telah ada sebelumnya (turun-temurun) atau berusaha menjiplak kesuksesan film-film Thailand yang memang terkenal dengan genre horror-nya.

Mengapa film-film seperti ini masih tetap diproduksi? Selain karena dianggap laris manis dan mudah membuat ceritanya (hanya perlu nge-bullshit tanpa perlu memperhitungkan rasionalitas), sepertinya film ini dipilih oleh banyak production house karena biaya produksinya yang jauh lebih murah dibandingkan film action (film horror kan hanya butuh beberapa rumah tua yang agak reyot, bayar sewa hutan/kuburan, dan beberapa pemain-yang-tidak-perlu-cakep-cakep-amat-alias-bayarannya-murah-toh-ujung-ujungnya-di-makeup-habis-habisan-juga?).

Kesimpulan (kalo Anda menganggap kesimpulannya ngaco, jangan protes yah! :P )

Jika saja kuntilanak, pocong, jelangkung, dan yang sejenisnya itu adalah artis, pasti mereka itulah makhluk-makhluk terkaya di Indonesia.

As for me, saya suka dengan cerita/film horror. Tapi bukan takhayul. Seperti? The Saw. Hostel. Dsb.